Males!

Suatu saat waktu keluar dari masjid setelah shalat Jumat, saya menjumpai beberapa orang anak sedang bermain bola, ketika kemudian terjadi percakapan kecil.

A: Eh B, aku njaluk iku po’o. (B, aku minta itu dong)
B: (sedang makan penthol bakso) Males’e! (Malas ah!)

Mungkin bagi banyak di antara kita tidak ada hal yang aneh dari percakapan mereka, karena gaya bahasa seperti itu sering kita temui. Kata “malas” sering digunakan sebagai alasan ketika menolak sesuatu, atau saat merasa enggan melakukan sesuatu. Yang menjadi pemikiran saya, bahkan mulai jauh dari sebelum hari Jumat itu, yaitu mudahnya orang Indonesia yang menggunakan kata “malas” dalam percakapan sehari-hari. Baca lebih lanjut

Manajemen Cinta

Pagi ini (12/11) saya membaca sebuah status update teman di dinding akun facebook saya, yang isinya sebuah pertanyaan: “Jatuh Cinta atau Belajar untuk Mencintai?” Spontan saya memberikan komentar, “manajemen cinta.” Biasanya kita menemukan di cerita-cerita, baik dari novel, sinetron, film layar lebar, dan lain sebagainya, sepasang insan yang “jatuh cinta.” Kata yang digunakan adalah “jatuh” yang menggambarkan keadaan yang di luar kontrol atau bukan suatu kesadaran. Sebaliknya di status FB teman saya tersebut dikatakan “belajar untuk mencintai,” yang menggambarkan suatu proses sadar yang disertai usaha untuk mencapai perasaan yang disebut cinta. Kemudian saya juga membawa apa yang saya sebut “manajemen cinta,” yang tidak hanya menggambarkan proses sadar untuk mencapai cinta, namun lebih dari itu tentang bagaimana perasaan “cinta” itu bisa dikelola dengan prinsip dasar manajemen, yaitu POLC (Planning, Organizing, Leading, Controlling).

Ketika seseorang membicarakan cinta, pada umumnya mereka akan merunut kepada perasaan “sangat suka” terhadap suatu objek, yang seringkali adalah sesosok lawan jenis. Dalam bahasa Indonesia, kita menggunakan kata “cinta” untuk berbagai konteks, termasuk “cinta monyet,” “cinta orang tua,” “cinta sesama,” “cinta dunia,” “cinta harta,” dan lain sebagainya. Dalam bahasa Inggris dikenal istilah infatuation dan dalam dunia psikologi dikenal yang namanya limerence. Kita tidak akan banyak membahas tentang dua istilah tersebut untuk saat ini, dan akan membahas manajemen “cinta” dalam konteks perasaan tertarik, intim, dan komitmen dengan lawan jenis. Dalam teori segitiga cinta, ini yang dinamakan consummate love. Baca lebih lanjut

Mirror

Narcissus yang mencintai bayangannya

Pernahkah kamu bertemu seseorang, dan merasakan bayangan dirimu di dirinya? Kita mendapatkan kemiripan dan kesamaan, seperti melihat diri kita sendiri di dalam cermin. Cermin, yang memantulkan bayangan kita bila kita melihat ke dalamnya. Seseorang bisa menjadi cermin bagi orang lain, dengan kesamaan yang disadari maupun yang tidak. Semakin kita dekat dengan dengan seseorang, semakin kita mendapatkan kemiripan dan kesamaan. Hingga kita mendapati sosok yang mendekati diri kita sendiri. Mirror, the reflections of ourselves. Baca lebih lanjut

Nama dan Diriku

Sepanjang hidupku aku memiliki dua nama panggilan utama, G dan N (sengaja dibikin berupa inisial). G adalah nama biasa, dalam artian itulah namaku yang digunakan oleh orang kebanyakan untuk memanggilku. N adalah nama “kecil”ku, yang digunakan oleh keluargaku dan teman-teman dekatku. Selain  itu ada nama-nama lain, seperti Dr-a atau Vp atau Gi/Uu oleh teman yang bercanda agak mengejek. Beberapa teman perempuan menggunakan panggilan yang lebih “lucu”, seperti Dr-i, Gy, Gm, dan lain-lain. Aku juga membuat nickname buat diriku sendiri, seperti TV, No, JG, dan lain-lain termasuk Sagippio.

Dengan adanya beberapa nama berbeda, dan nama identik dengan identitas, apakah identitasku juga berubah mengikuti panggilan yang digunakan? Bisa iya bisa tidak. Aku tetaplah aku di mataku, meskipun I am what you perceive me as I am di matamu. Oke, bisa dikatakan untuk dua panggilan utama, G dan N, aku memiliki perbedaan. Perbedaan itu bisa dilihat dari ekspresi wajah dan perilaku. Those who know me as both should know the differences. Kunci untuk melihat perbedaannya bukan bagaimana aku dipanggil, tapi kondisi mental “di mana aku berada” saat dipanggil. Bisa dikatakan, aku sebagai G memakai wajah publikku, sedangkan aku sebagai N memakai wajah prifatku. N yang dilihat kebanyakan orang pun sebenarnya adalah G, kecuali bagi mereka yang benar-benar tahu aku sebagai N. Baca lebih lanjut