Klisenisasi

Suatu ketika saya dimintai masukan mengenai sesuatu, dan ketika saya hendak menyampaikan pendapat dari saya, saya merasa kok sudah terlalu sering mengatakan hal yang sama. Terlebih masukan dari saya itu bukan hal yang baru dan bukan hal yang luar biasa. Mungkin sesuatu yang sudah sering didengar. Ya, sesuatu yang cliché (klise), yaitu suatu ungkapan, ide, atau hal yang sudah terlalu sering didapati hingga kehilangan arti, atau pengaruh, bahkan mungkin bisa membuat orang merasa jengah atau kesal, terutama kalau pada awalnya sesuatu itu dianggap penuh arti atau baru.

Mungkin Anda juga pernah mengalami hal serupa, terutama pada era media sosial seperti Facebook dan Twitter, saat begitu mudahnya orang menemukan dan menyebarkan kata-kata bijak (atau yang dianggap bijak meskipun belum tentu benar-benar bijak). Seringkali kita menemukan sesuatu yang kita anggap bagus di Internet kemudian men-share-nya. Mungkin kita juga pernah menemui suatu kondisi atau keadaan sesuatu atau seseorang, dan kemudian menuliskan nasehat di dinding Facebook atau berkicau melalui Twitter. Kita jadi melakukan apa yang saya sebut klisenisasi.Kita tidak memikirkan apakah nasehat itu bisa diterima semua orang atau malah mengganggu mereka. Ibaratnya melakukan pengeboman, kita melakukan carpet-bombing, yaitu menjatuhkan ribuan bom secara ngawur tanpa mempedulikan apakah bom itu mengenai sasaran yang kita inginkan atau malah menghancurkan bangunan yang tidak seharusnya dirusak atau membunuh orang-orang tidak bersalah. Begitu pula dengan hal-hal yang kita share tadi, kita melakukan klisenisasi, yaitu percepatan membuatnya menjadi klise, karena seringkali timing dan sasarannya tidak pas. Bukannya nasehat kita itu diterima, malah-malah orang menjadi jengkel pada kita dan menganggap kita sok tahu, sok paham, atau sok bijak.

Dengan semakin banyaknya hal-hal klise, orang jadi mencari-cari hal yang baru yang dianggap lebih memiliki arti, padahal bukan berarti hal-hal klise tersebut kehilangan arti karena hanya kita yang jadi tidak lagi mampu menangkap artinya. Sebenarnya yang perlu kita lakukan bukanlah mencari-cari hal baru –meskipun juga tak ada salahnya, bahkan bisa jadi baik– namun mencari kembali makna dari hal-hal yang dianggap klise. Dengan membiasakan diri mendalami dan benar-benar memahami hal-hal yang mungkin kita anggap klise, kita akan menemukan banyak hal untuk dipelajari, terutama karena kita temui banyak hal klise tiap harinya. Bahkan bukan tidak mungkin kita akan memperoleh wisdom yang mendalam dari hal-hal yang kita anggap sebagai klise tersebut.

Salah satu hal yang saya tangkap mulai mengalami klisenisasi adalah dalam hal-hal kepercayaan (faith) dan agama. Sebagai seorang muslim, dalam agama saya dikatakan bahwa pada akhir zaman agama Islam hanya tinggal nama dan Al-Qur’an hanya tinggal bacaan saja (Hadits Riwayat Al-Baihaqi dari Ali RA). Hal ini bisa terjadi karena Islam hanya diperlakukan sebagai atribut dalam KTP, yang meskipun kalau Islam dihina ummatnya akan tersinggung luar biasa, namun ucapan dan kelakuan banyak dari mereka tak ubahnya seperti orang zhalim. Begitu pula Al-Qur’an semakin banyak hanya berupa bacaannya saja (meskipun tetap berpahala) namun artinya sama sekali tidak dimengerti apalagi dipahami dan diamalkan.

Seperti yang sudah saya sampaikan, saya yakin banyak sekali pelajaran yang bisa kita peroleh dari hal-hal klise. Seringkali orang mencari hal-hal yang benar-benar baru, bahkan sampai keliling dunia untuk mendapatkan pelajaran atau kedamaian. Bahkan bisa jadi kemudian terjebak pada sesuatu yang sekilas seperti bijak, hanya karena baru ditemui, namun sebenarnya tidak. Padahal kalau kita mau, banyak hal-hal di sekitar kita yang bisa kita jadikan pelajaran, termasuk hal-hal kecil atau klise. Jadi, ayuk kita biasakan melakukan deklisenisasi dan mencari arti dalam setiap hal yang kita temui dalam hidup kita. Yuuuk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s