Childhood Memories (1)

Perbincangan di Free Speaking Class kamis kemarin (20/12) cukup seru, termasuk salah satu yang menarik adalah tentang ingatan mengenai masa kecil. Saya cukup heran, ternyata rekan-rekan dalam grup saya tidak ada satu pun yang ingat masa kecilnya. Hal itu saya anggap aneh karena saya masih ingat banyak hal tentang masa kecil saya, bahkan saya masih cukup sering bermimpi tentang-tentang tempat-tempat di masa kecil saya. Ingatan masa kecil yang paling awal adalah ketika saya sekitar umur dua tahun, meski ingatan itu sudah sangat kabur.

Saat masih kecil, saya adalah anak yang memiliki rasa keingintahuan dan imajinasi yang cukup bagus. Karena kedua orang tua saya bekerja, saya jadi cukup bebas melakukan eksplorasi, baik di rumah maupun di luar rumah. Di dalam rumah, bisa dibilang saya cukup suka otak-atik. Segala sesuatu saya bongkar, yang tidak jarang tidak bisa saya kembalikan. Banyak bagian dinding rumah yang saya corat-coret, baik dengan pensil, uang koin (tahukah Anda kalau uang koin bisa digunakan untuk menggambar di dinding?), bahkan silet dan cutter.

Saya masih ingat, waktu itu di belakang rumah ada pohon mangga, pohon pisang, dan pandan yang tingginya hampir sama dengan pohon pisang. Waktu saya masih sangat kecil (mungkin TK atau SD awal) kami punya tanaman talas, dan pernah punya tanaman semangka dan blewah. Kami mengumpulkan sampah; terutama rumput, dedaunan, dan kertas; di sudut halaman belakang, yang rutin kami bakar. Saya suka sekali menyalakan bara api yang hampir mati di tumpukan sampah (kemampuan yang saya banggakan saat itu), kemudian berlagak seperti pandai besi dengan memasukkan batang logam ke bara tersebut untuk kemudian saya pukul-pukul dengan palu ketika sudah merah membara. Seringkali saya mengakhiri hari dengan tubuh dan pakaian yang bau sangit kena asap. Yah, tidak sangit ya tidak belajar…

Saat itu itu lingkukan rumah kami masih cukup alami, jalan depan dan sekitar rumah belum diaspal sehingga ketika hujan akan becek. Namun becek bukan sembarang becek. Di dekat rumah ada semacam rawa yang tidak terlalu luas, yang ketika hujan airnya akan meluber ke jalanan, mengalir menuju ke tambak di seberang jalan. Berikut ikannya. Ya, saat itu ketika habis hujan, beceknya ada ikannya. Apalagi di jalan dekat rawa itu, yang airnya mengalir di bebatuan (karena bukan jalan aspal) persis seperti sungai di pegunungan (beneran, saya tidak mengada-ada). Seringkali orang yang lewat di jalan itu menyempatkan untuk berhenti sebentar untuk sekedar berbecek-becek dan melihat-lihat ikan yang berkecipak di air jernih yang mengalir. Ikan yang ada bermacam-macam, mulai dari ikat sepat, ikan-ikan kecil warna-warni, ikan kutuk (ikan gabus) dan koncel (anakannya), dan terkadang juga ular.

Iwak Sepat

Ikan sepat, enak digoreng garing

Di masa kecil saya sering lihat ular, karena banyak ditemui di sekitar rumah, bahkan beberapa kali masuk ke rumah. Kebanyakan memang cuma ular sawah dan ular air, tapi ada juga ular kobra dan ulo weling. Bahkan saya pernah mengejar-ngejar sepasang ular sawah dan membakar mereka (kejam, saya tahu, tapi namanya juga anak-anak). Ada juga nyambik (sebangsa kadal besar) yang terkadang mengganggu ayam kami saat itu, yaitu ketika saya agak besar (SD tengah-akhir), saat kami memiliki kandang ayam di dekat tempat sampah yang suka saya jadikan tungku pandai besi.

(bersambung)

One thought on “Childhood Memories (1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s