Males!

Suatu saat waktu keluar dari masjid setelah shalat Jumat, saya menjumpai beberapa orang anak sedang bermain bola, ketika kemudian terjadi percakapan kecil.

A: Eh B, aku njaluk iku po’o. (B, aku minta itu dong)
B: (sedang makan penthol bakso) Males’e! (Malas ah!)

Mungkin bagi banyak di antara kita tidak ada hal yang aneh dari percakapan mereka, karena gaya bahasa seperti itu sering kita temui. Kata “malas” sering digunakan sebagai alasan ketika menolak sesuatu, atau saat merasa enggan melakukan sesuatu. Yang menjadi pemikiran saya, bahkan mulai jauh dari sebelum hari Jumat itu, yaitu mudahnya orang Indonesia yang menggunakan kata “malas” dalam percakapan sehari-hari.

Some lazy kids

Kalau dikatakan bahwa apa yang dikatakan seseorang mencerminkan diri orang tersebut, saya jadi menyimpulkan bahwa banyak orang Indonesia yang malas (bener ga ya?), yaitu dari pilihan kata “malas” sebagai kata yang sering digunakan. Memang, orang-orang yang saya temui menggunakan kata itu menurut saya kurang rajin, alias malas. Jujur saja, saya sendiri kadang secara otomatis menggunakan kata tersebut, hanya saja sekarang tiap kali akan menggunakan kata tersebut saya akan mencari kata alternatif yang lebih positif.

Memang, saya juga pernah menemui penggunaan kata malas dalam Bahasa Inggris, dalam bentuk “I’m too lazy to do [something]“, namun tidak sesering dalam Bahasa Indonesia, dan yang dari tangkap dari orang yang mengatakan itu dalam Bahasa Inggris adalah dia tidak terlalu pintar. Ya, mungkin cuma penilaian subjektif saya saja, dari bagaimana orang tersebut tidak mampu mengingat sesuatu (dan dia malas untuk mencari tahu tentang sesuatu tersebut). Saya tidak tahu kewarganegaraan orang itu, karena saya menemukan tulisan itu di forum yang anggotanya berasal dari berbagai negara.

Dalam Bahasa Jepang (bahasa lain yang saya pelajari), saya tidak pernah menemukan penggunaan kata malas (namake maupun kata lain yang lebih jarang dipakai) dalam percakapan sehari-hari, apalagi untuk diri sendiri. Dan bisa kita lihat, kalau orang Jepang memang memiliki etos kerja yang tinggi. Begitu pula dengan orang-orang Indonesia (setidaknya orang-orang di sekitar saya) yang rajin dan memiliki etos kerja tinggi, saya tidak pernah menemukan mereka menggunakan kata “malas” untuk diri mereka sendiri.

Lazy Garfield

Mental pemalas

Jadi kembali lagi, kalau pilihan kata yang kita gunakan dipengaruhi dan mempengaruhi diri kita, maka menurut saya sebaiknya kita jauhi penggunaan kata itu dalam bahasa sehari-hari kita, apalagi untuk diri sendiri. Kita bisa menggunakan kata lain, misal ketika menolak ketika diajak melakukan sesuatu kita tidak menggunakan “malas ah“, tapi “mungkin lain kali” atau langsung saja bilang “tidak“. Begitu pula saat menikmati waktu luang di rumah, kita tidak bilang “aku ingin bermalas-malasan” tapi “aku ingin bersantai“. Dan sebagainya. Mudah-mudahan dengan menjauhi penggunaan kata tersebut, sifat malas juga menjauh dari kita, sehingga kita semakin rajin dan termotivasi dalam segala sesuatu. Amin.

Sedikit catatan, ketika saya menemui beberapa teman mengatakan kata tersebut dan saya mengingatkan, mereka mengatakan “babahno” (biarin dong). Mungkin respon itu juga menunjukkan karakter mereka (orang-orang yang suka menggunakan kata “malas”), atau mungkin saya yang kurang persuasif. Memang, saya harus lebih banyak belajar lagi. Bagaimana dengan Anda, kalau masih menggunakan kata itu, apakah Anda mau menghindari atau setidaknya mengurangi penggunaannya?

4 thoughts on “Males!

    • it’s okay, at least there’s no “lazy” in there, though it might make you numb (“don’t feel”)… πŸ˜€

  1. susah sih Gun, tapi memang penggunaan kata males harus sebanyak mungkin dikurangi (kalau belum mungkin dihilangkan. Aku dhewe merasakan dengan menggunakan kata males, mental stateku langsung beneran ga mau melakukan apa-apa…

    tapi kayake aku (dulu) sering banget mendapati sampean menggunakan kata itu. πŸ˜›

    • Dulu aku gitu ya… hmm, yakin tah skrg udah nggak, hehe. Yah, ada prosesnya lah menuju ke sana, dikurangi dulu lama2 dihindari sama sekali, insyaAllah kita bisa jadi… juara umum! lho, wis penutupan rek… sayang sepakbola dapat perak…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s