New Moon

Umat muslim Indonesia tiap tahunnya tidak selalu berbarengan dalam menentukan tanggal satu Syawal, begitu pula dengan tahun ini (1432 H). Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan kriteria penetapan tanggal satu Syawal, yang sebagian menggunakan dasar rukyat (melihat hilal, yaitu bulan sabit pertama setelah ijtimak/konjungsi, atau saat kedudukan Bumi dan Bulan berada di posisi bujur langit yang sama, jika diamati dari Bumi), sedangkan yang lain menggunakan dasar hisab (perhitungan, secara matematis/astronomis).

Dalil yang dijadikan dasar penentuan tanggal 1 Syawal adalah surah Al-Baqarah (2) ayat 185 dan 189; serta hadits Rasulullah ﷺ:

”Apabila bulan telah masuk kedua puluh sembilan malam (cat: pada bulan Sya’ban). Maka janganlah kalian berpuasa hingga melihat hilal. Dan apabila mendung, sempurnakanlah bulan Sya’ban menjadi tiga  puluh hari.” (H.R. Bukhari no. 1907 dan Muslim no. 1080, dari ‘Abdullah bin ‘Umar)

Dalam redaksi lain hadits disebutkan, jika cuaca mendung maka bisa dilakukan perkiraan1. Mungkin redaksi ini yang dijadikan dasar digunakannya metode hisab, sehingga ada yang menggunakan hisab dan ada yang menggunakan rukyat. Perbedaan yang terjadi pada dasarnya tak lepas dari ijtihad. Mereka yang menggunakan hisab mengatakan bahwa “melihat” tidak harus selalu bermakna melihat dengan mata. Sedangkan yang berpegang pada rukyat menggunakan hadist riwayat Bukhari Muslim dari ‘Abdullah bin ‘Umar:

”Sesungguhnya kami adalah umat ummiyah. Kami tidak mengenal kitabah (tulis-menulis) dan tidak pula mengenal hisab. Bulan itu seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 29) dan seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 30).” (H.R. Bukhari no. 1913 dan Muslim no. 1080, dari ‘Abdullah bin ‘Umar)

Di Indonesia, metode hisab digunakan oleh Muhammadiyah dan Persatuan Islam (Persis). Untuk tahun ini (2011/1432 H), Muhammadiyah yang menggunakan metode wujudul hilal (hilal wujud di atas ufuk yang ditandai bulan terbenam lebih lambat daripada matahari) menetapkan tanggal 30 Agustus sebagai 1 Syawal. Pemerintah, yang menggunakan metode imkanururrukyat (menghitung kemungkinan hilal teramati) baru saja menetapkan tanggal 31 Agustus sebagai 1 Syawal. Persis, yang juga menggunakan hisab namun kini mulai mengadopsi metode imkanurrukyat, menetapkan tanggal 31 Agustus sebagai 1 Syawal. Sedangkan yang menggunakan metode rukyat hilal (visibilitas hilal) adalah Nahdlatul Ulama (NU), namun NU juga menggunakan batas imkanurrukyat 2° sebagai batas kesaksian yang diterima. NU juga menetapkan tanggal 31 Agustus sebagai 1 Syawal.

Menurut Thomas Djamaluddin, Profesor Riset Astronomi-Astrofisika LAPAN dan anggota badan hisab rukyat Kementerian Agama RI, dari segi astronomi kriteria wujudul hilal adalah kriteria usang yang sudah lama ditinggalkan di kalangan ahli falak2.

Sebenarnya dengan hisab kita bisa menghitung menghitung hilal dengan cukup akurat. Kemajuan teknologi informasi menyediakan kemudahan dengan hadirnya perangkat lunak yang dapat membantu kita mengetahui hilal, salah satunya adalah Stellarium3. Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) menggunakan perangkat lunak Accurate Time untuk mendapatkan peta visibilitas hilal seperti yang dapat kita lihat di bawah ini:

Berdasarkan gambar di atas, daerah yang berada pada area BIRU TUA (D) (tak berarsiran) tidak memiliki peluang menyaksikan hilal sekalipun menggunakan alat bantu optik (binokuler/teropong), sebab kedudukan Hilal masih sangat rendah (< minimal 6,4°; sebelumnya 7°, yang dikenal sebagai “Limit Danjon”) dan terang cakram Bulan masih terlalu kecil sehingga cahaya Hilal tidak mungkin teramati. Dengan kata lain, meskipun secara matematis (kriteria hisab wujudul hilal) sudah masuk bulan baru, menurut teori imkanurrukyat secara kasat mata (rukyat) hilal tidak bisa dilihat. Sehingga, menurut kriteria imkanurrukyat Indonesia belum masuk 1 Syawal 1432 H.

Indonesia mungkin satu-satunya negara yang umat Islamnya berbeda dalam penentuan 1 Syawal. Negara-negara lain pada umumnya bisa memiliki perbedaan penetapan 1 Syawal, namun itu antar negara yang berbeda, sedangkan dalam satu negara menggunakan ketetapan yang sama. Memang, Indonesia membentang luas dan mencakup tiga zona waktu yang berbeda. Mungkin wajar jika perbedaan terjadi antar daerah dengan zona waktu yang berbeda, namun bukan itu yang terjadi di negara kita.

Negara kita adalah negara dengan masyarakat yang beragam, pun dalam hal agama. Menghormati perbedaan itu sebenarnya baik, dengannya kita jadi saling menghargai dan bisa hidup tentram. Di sisi lain, persatuan umat adalah suatu hal yang sangat penting. Lantas, siapa yang perlu kita ikuti?

Mari kita kembali ke Al-Qur’an dan Al-Hadits4.

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Q.S. An-Nisaa’ [4]:59)

“Barangsiapa menaatiku berarti telah menaati Allah. Barangsiapa menentangku berarti telah menentang Allah. Barangsiapa menaati pemimpin (umat)ku berarti telah menaatiku, dan barangsiapa menentang pemimpin (umat)ku berarti telah menentangku.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah)

Mengenai hadits di atas, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani berkata: “Di dalam hadits ini terdapat keterangan tentang kewajiban menaati para penguasa dalam perkara-perkara yang bukan kemaksiatan. Adapun hikmahnya adalah untuk menjaga persatuan dan kebersamaan (umat Islam), karena di dalam perpecahan terdapat kerusakan.” (Fathul Bari, juz 13, hal. 120).

Ulama terkenal, Dr. Yusuf Qardhawi berpendapat, jika kaum Muslim tidak mampu mencapai kesepakatan pada tingkat global, minimal mereka wajib berobsesi untuk bersatu dalam satu kawasan. Kata Syekh Qardhawi, tidak boleh terjadi di satu negara atau satu kota kaum Muslim terpecah-pecah; berbeda pendapat dalam masalah penentuan awal Ramadhan atau Hari Raya. Perbedaan dalam satu negara semacam itu, tidak dapat diterima. Kaum Muslim di negara itu harus mengikuti keputusan pemerintahnya, meskipun berbeda dengan negara lain. Sebab, itu termasuk ketaatan terhadap yang ma’ruf. (Yusuf Qardhawi, Fatwa-Fatwa Kontemporer Jilid II (terj.), Jakarta: GIP, 1995, hal. 315)5.

Berdasarkan Al-Qur’an, Hadits, dan pendapat ulama di atas, menurut hemat saya lebih baik kita mengutamakan persatuan umat, karena kita tidak akan menjadi kuat sebelum kita bersatu sebagai umat. Saya rasa tidak ada di antara kita yang tidak ingin umat muslim Indonesia satu dan padu. Dan sebaiknya kita mengikuti penguasa (ulil amri) selama tidak dalam perkara kemaksiatan. Saya pikir ini yang lebih baik di sisi Allah.

Sekian dari yang bisa saya sampaikan. Kapanpun pilihan hari datangnya 1 Syawal Anda, pada kesempatan yang sangat baik ini saya ingin menghaturkan senyum dan permohonan maaf dari lubuk hati yang paling dalam, dan saya ingin mengucapkan:

Taqabballahu minna waminkum waja’alanallahu waiyyakum minal ‘aidin wal faidzin. Aamiin.


Catatan
:
1. H.R. Bukhari no. 1900.
2. Sumber: http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/08/27/muhammadiyah-terbelenggu-wujudul-hilal-metode-lama-yang-mematikan-tajdid-hisab/
3. Cara menggunakan Stellarium untuk melihat hilal bisa dilihat di sini.
4. Referensi: http://muslim.or.id/ramadhan/menentukan-awal-ramadhan-dengan-hilal-dan-hisab.html
5. Referensi: http://www.petitiononline.com/ukhuwwah/petition.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s