Menyayangi Yang Lalu

Disclaimer: Posting ini murni pendapat pribadi dan tidak dimaksudkan untuk merasa lebih benar dari pendapat yang berbeda.

Baru-baru ini dalam perbincangan dengan seorang teman, kami membicarakan tentang menyayangi seseorang dari masa lalu, yang bukan pasangan kita saat ini (atau nanti). Dalam hal ini saya berbeda dengan dia, dia berpendapat bahwa dia tidak ingin menyayangi siapapun kecuali pasangan yang sah (suami/istri), sedang saya berpendapat bahwa boleh saja menyayangi orang lain dari masa lalu. Mungkin anda akan cepat berpendapat bahwa dia yang benar bukan? Tentu saja, saya juga akan bilang kalau dia benar, tapi ijinkan dulu saya menjelaskan maksud saya.

Sebelumnya sudah saya katakan kalau ini hanya pendapat saya, dalam artian bisa jadi ini hanya berlaku untuk saya saja. Ketika saya mengatakan boleh menyayangi, yang saya maksudkan tentu bukan perasaan sayang yang sama dengan rasa cinta kepada suami/istri kita. (Perhatikan saya menggunakan kata “sayang” untuk orang yang lalu [silakan baca: mantan; baik mantan pacar atau bagi mereka yang tidak berpacaran: orang yang pernah ditaksir meski tidak pacaran] dan “cinta” untuk pasangan yang sah [dan saya hanya akan menggunakan kata “cinta” untuk pasangan sah]). Untuk kasus saya pribadi, saya bilang boleh menyayangi karena “sayang” yang saya maksud adalah kekaguman atas kebaikan yang ada pada orang itu, dan keinginan agar kebaikan itu tetap ada. Tentu, tanpa disertai keinginan untuk memiliki atau bersama karena kita sudah mengikhlaskan mereka.

Saya termasuk orang yang berpendapat bahwa cinta tidak hanya berupa rasa sayang, namun juga komitmen. Tadi saya katakan pendapat teman saya itu benar, karena rupanya dasar pemikirannya adalah keinginan baik untuk komitmen terhadap pasangan sah, dan dia termasuk yang berpendapat bahwa masih menyayangi seseorang selain pasangan sah adalah bentuk pengkhianatan (pendapat seperti ini pernah beberapa kali saya temui dalam tulisan kerohanian). Saya memahami ini dan saya juga maklum kalau banyak orang mungkin juga akan berpikiran yang sama. Sedangkan untuk dasar dari pendapat saya adalah kalau sayang itu karena Allah.

Kalau kita mendasarkan pada perasaan atau emosi hati, tentu kita akan setuju bahwa menyayangi orang lain selain pasangan sah itu bentuk ketidaksetiaan. Namun kalau kita kembalikan perasaan sayang tadi karena Allah, yaitu menginginkan kebaikan dan kebahagiaan mereka, dengan tetap menjaga kehormatan dan tidak melebihi batas, menurut saya boleh-boleh saja bagi yang bisa seperti itu. Dan hanya yang bisa ikhlas saja yang bisa seperti ini, yaitu ikhlas karena Allah. Memang, tidak ada yang bisa menjamin dirinya bisa ikhlas seperti ini, karena itu saya katakan ini hanya pendapat pribadi saya saja, karena itulah yang saya percayai.

Sedikit selingan, pernah saya berbincang dengan seorang kenalan yang mengaku pernah berpacaran belasan kali sebelum usianya dua puluh tahun. Dia mengatakan kalau dia lebih suka pacaran dengan orang yang lugu, karena mereka cemburuan. Dari sini saya tangkap, kalau mungkin mereka yang memiliki sedikit pengalaman dalam hal “merasakan” akan lebih mudah cemburu. Saya bisa saja salah sih, tapi begitulah yang saya tangkap, termasuk dari pengamatan saya sendiri.

Saya tidak menganjurkan berpacaran, tapi kelihatannya mereka yang berpengalaman mengikhlaskan seseorang yang disayangi (baca: mantan, definisi sama seperti sebelumnya) akan lebih mudah untuk ikhlas untuk hal-hal lain dalam hal perasaan dan jalinan hubungan, sehingga cenderung lebih bisa menerima kalau-kalau pernah ada orang lain di hati pasangannya yang sekarang. Anda mungkin mengatakan, tentu saja karena mereka sendiri juga begitu. Menurut saya anda benar, hanya saja saya juga ingin melihat proses mengikhlaskan itu adalah bagian dari pembelajaran hidup, dan kemampuan menerima itu adalah bagian dari kedewasaan dan kematangan perasaan.

Bagi saya kedewasaan dan kematangan perasaan adalah kemampuan menerima dan komitmen dengan pasangan yang sekarang, terlepas dari masa lalu mereka dan masa lalu kita sendiri. Dalam hal ini yang saya katakan sebagai kedewasaan perasaan tadi akan membuat seseorang mampu menerima kenyataan bahwa ada yang lain di hati pasangan selain dirinya, sehingga mencegah sifat posesif dan cemburu berlebihan. Tentu, cemburu boleh saja, dan karena itu adanya sosok yang lain di hati pasangan harus tetap pada koridor dan porsi yang tepat. Siapapun tidak akan cemburu jika di hati pasangannya ada Allah atau orang-tuanya bukan? Hehe, mungkin anda akan mengatakan kalau itu hal yang berbeda, namun menyayangi orang lain karena Allah tentu tidaklah jauh berbeda.

Saya pernah diceritakan tentang pasangan teman dari teman saya, yang mana salah satu dari mereka beberapa kali menyinggung dan membandingkan pasangan yang sekarang dengan seseorang yang pernah ada di hatinya. Kalau itu yang terjadi, tentu saya tidak setuju. Kalau seperti itu artinya dia masih belum mengikhlaskan orang di masa lalu tersebut, karena sosoknya masih terbayang-bayang. Bukan seperti itu bentuk menyayangi orang di masa lalu yang saya maksudkan. Rasa sayang yang saya maksud adalah hanya ketika kebetulan menemukan sosok yang lalu tersebut (misal tak sengaja bertemu, atau melihat di facebook), kita akan tersenyum dan berpikir, “Dia orang yang baik bagiku, dan insya Allah baik di hadapan-Nya, karena itu aku sayang dia.”

Sedikit selingan lagi, kita mengenal sesosok ulama yang pernah sangat kondang di negeri ini, termasuk di kalangan ibu-ibu. Kemudian pamor ulama itu merosot drastis, karena ulama tersebut mempraktekkan poligami. Pengalaman pribadi saya yang berhubungan dengan ini adalah ketika saya sedang ke dokter gigi, ketika itu dokter gigi tersebut (perempuan) ngobrol dengan asistennya kalau dia gregetan banget dengan ulama tersebut, dan pada saat dokter gigi itu sedang mengerjakan mulut saya! Saya hanya bisa pasrah waktu itu, hahaha.

Saya jadi ingat cerita seorang dosen saya, beliau pernah berbincang dengan seorang perempuan non-muslim yang mengatakan bahwa poligami sebenarnya adalah alat untuk melatih kecintaan manusia pada Tuhannya. Idealnya poligami akan bisa terwujud kalau kecintaan seorang perempuan pada Allah lebih besar daripada kecintaannya pada suaminya. Saya pikir hanya ketika perasaan sayang dan cinta benar-benar didasarkan pada kecintaan pada Allah, maka poligami akan bisa berfungsi seperti itu. Tidak ada sakit hati atau cemburu berlebihan, karena ada kesadaran bahwa suami (dan istri) bukanlah milik pribadi (tak ada sifat posesif) namun adalah titipan Allah. Ini juga adalah bentuk dari kedewasaan dan kematangan perasaan.

Namun poligami bukanlah bentuk ketidaksetiaan melainkan bentuk pernikahan yang sah, betul? Ya, dan saya maklum bahwa poligami tetap saja berat, karena itu meskipun saya tidak memiliki masalah dan bahkan mendukungnya bagi mereka yang mampu (dan juga ingin terus memperbaiki diri saya untuk bisa mencapai level pantas berpoligami), saya pribadi tidak punya keinginan untuk berpoligami.

Poligami memiliki kesamaan dengan topik posting ini dalam hal adanya sosok lain dalam hati pasangan (suami). Perbedaannya adalah dalam poligami adanya sosok lain itu dalam periode yang sama dengan jenis yang sama (cinta pada pasangan sah), sedangkan “sayang” yang saya maksud di atas tadi adalah dalam periode yang berbeda dengan jenis yang berbeda (sayang yang menginginkan kebaikan dan kebahagiaan).

Sayang yang pada tempatnya, yaitu karena Allah dan sesuai proporsi, akan membuat kita menghormati pasangan orang yang kita sayangi tanpa ada rasa cemburu. Saya percaya kunci agar bisa menempatkan rasa sayang ini pada tempatnya adalah niat yang baik karena Allah. Setahu saya pada jaman nabi pun menyampaikan maksud pada seseorang yang dikagumi untuk menikah adalah hal yang wajar (bahkan bagi perempuan), begitu pula dengan penolakan, sehingga memiliki seorang “mantan” (dalam artian seseorang yang pernah dikagumi) adalah wajar juga.

Mungkin beberapa orang akan mengatakan itu kan jaman nabi, sekarang sudah beda. Saya hanya akan berkomentar, jaman sekarang pun tidak ada salahnya kalau kita merasa menemukan seseorang yang menurut kriteria kita baik, lantas kita melakukan usaha untuk lebih mengenal orang tersebut untuk memastikan bahwa orang tersebut benar-benar ideal buat kita. Ta’aruf yang dilakukan sebagai teman dan tidak melebihi batas, dan diniatkan untuk menuju yang baik (pernikahan).

Jadi saya pikir tidak ada salahnya apabila kita menyayangi seseorang apabila diniati dengan baik dan dengan pelaksanaan yang baik, sehingga mengagumi seseorang boleh-boleh saja asalkan diarahkan menuju yang baik (bukan pacaran tapi pernikahan). Dan apabila tujuan baik itu tidak bisa tercapai pun, saya pikir tetap menyayangi mereka (sekali lagi dengan batasan, sesuai yang sudah saya jelaskan) adalah boleh-boleh saja.

Dari pengalaman pribadi, tidak semua yang pernah saya kagumi akan terus saya sayangi seperti ini, karena terkadang kita mengagumi seseorang murni dari perasaan dan ketertarikan tanpa benar-benar menganggap mereka baik karena Allah. Rasa kagum dan suka suka yang seperti itu akan mudah hilang seiring dengan waktu. Perasaan sayang yang saya sebutkan di atas bukan untuk tipe perasaan semacam itu.

Sedangkan untuk mereka yang masih saya sayangi, saya percaya saya menyayangi mereka karena awalnya saya anggap mereka baik (dalam standar penilaian saya), jadi selama saya anggap mereka baik saya akan terus menyayangi mereka sebagai teman dan sebagai seorang manusia yang baik di hadapan Allah. Hanya saja saya hanya akan ingin menggenggam tangan dan mengatakan cinta karena Allah (yaitu dalam pernikahan) pada pasangan sah saya.


Catatan: Tulisan ini didedikasikan untuk seorang teman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s