Ya ya ya

Terkadang kita menemukan seseorang yang sangat meyakinkan. Segala perkataannya sepertinya baik dan masuk akal. Kita pun menerima segala yang diucapkannya. Terkadang pula kita menemukan seseorang yang sulit sekali bagi kita untuk menerima apa yang dikatakannya, bahkan ketika logika kita mengatakan bahwa yang dikatakannya benar. Bagaimana ini bisa terjadi? Apa yang menyebabkan kita bisa mudah mempercayai seseorang dan susah mempercayai yang lain?

Sebagian besar kecenderungan percaya atau tidak percaya itu ditentukan oleh alam bawah sadar (feeling, dan bukan proses logis). Ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang percaya dan tidak percaya pada sesuatu, baik dari  sifat dan kecenderungan orang itu sendiri; dan dari orang lain: siapa yang mengatakan, apa yang dikatakan, dan bagaimana mengatakannya; dari situasi kondisi; dan sebagainya.

Secara umum manusia memiliki kecenderungan untuk setuju dengan seseorang yang sebelumnya telah membuatnya setuju. Membuat seseorang approve (mengiyakan, setuju) akan mempermudah membuat orang tersebut approve lagi setelahnya. Begitu pula apabila bisa membuat seseorang comply (menurut) maka akan mempermudah membuat orang tersebut comply lagi setelahnya.

A raccoon says yes

Seseorang bisa membuat orang lain approve dan comply pada awalnya, dengan beberapa cara seperti dengan cara mengiyakan atau setuju dengan mereka terlebih dahulu, yang dilanjutkan dengan paraphrasing (mengulangi perkataan lawan bicara). Cara ini akan membuat lawan bicara merasa dipahami sehingga merasa nyaman untuk balik menyetujui. Ini adalah bagian dari proses menjalin rapport.

Cara lain adalah dengan membuat mereka suka pada kita, karena pada umumnya manusia cenderung setuju dan mengikuti orang atau hal yang disukai. Ini terjadi karena faktor non-logis (perasaan: suka-tidak suka, kedekatan/rapport: teman-musuh, alam bawah sadar: mood, kebiasaan) mempengaruhi logika pengambilan keputusan (benar-salah, setuju-tidak setuju, mengikuti-menentang).

Cara lain bisa dengan memberikan sesuatu yang membuat seseorang merasa perlu membalas pemberian itu atau bahkan merasa berhutang dan harus membayarnya, sehingga mau menuruti sang pemberi. Bisa juga dengan menggunakan wewenang dan kekuasaan, dengan membuat keadaan di mana orang lain mau tak mau mengikuti kemauan pelaku, dan sebagainya; yang meski terasa kasar dan memaksa, namun kadang juga bisa digunakan.

Pada awalnya seseorang bisa membuat orang lain approve dan comply pada hal-hal kecil yang umum dan lazim (misal: general truth, common beliefs, common courtesy, dll), kemudian secara konstan dan konsisten membuat orang tersebut terus approve dan comply, hingga mendapat kepercayaan mereka (baik sadar maupun tidak) sehingga mereka mau approve dan comply untuk hal-hal lain yang lebih khusus. Jika proses ini bisa diteruskan secara konsisten, suatu ketika si objek penderita akan bisa menerima (approve dan comply) semua sugesti dan perintah, bahkan yang ekstrim sekalipun.

Taktik ini bisa digunakan untuk banyak hal, mulai dari hal yang umum dilakukan seperti diskusi, persuasi, negosiasi; hingga pada hal-hal ekstrim seperti gendam (hipnosis) dan cuci otak. Seorang teman yang belajar hipnosis pernah menceritakan pengalaman komunitasnya dalam mempraktekkan ilmu mereka (tentu tidak untuk berbuat kejahatan), yaitu ketika mereka menggunakan taktik tersebut untuk membuat seseorang masuk dalam keadaan trance (terhipnotis). Begitu pula ketika saya menyaksikan kesaksian salah satu korban NII KW9 (kasus cuci otak), saya langsung mengetahui bahwa taktik yang digunakan untuk mencuci otak para korban adalah seperti taktik yang sudah saya sebutkan.

Seperti yang sudah saya katakan, manusia memiliki kecenderungan untuk setuju dengan seseorang yang sebelumnya telah membuatnya setuju. Kecenderungan itu berbeda-beda untuk tiap-tiap orang, ada yang besar kecenderungannya dan ada yang kecil. Bagaimanapun, kemampuan untuk berpikir kritis bisa mengimbangi kecenderungan itu. Berpikir kritis pada intinya adalah tidak langsung menerima sesuatu, namun terlebih dahulu menentukan baik-buruknya, benar-salahnya hal tersebut melalui proses logis dan disertai bukti yang cukup, terlepas dari aspek-aspek non-logis (misal: perasaan suka/tidak suka, dorongan untuk mengikuti/membantah) yang berhubungan dengan hal tersebut.

Seorang muslim sepantasnya memiliki sifat yang kritis. Salah satu doa yang lazim adalah, “Ya Allah tunjukanlah kepada kami yang benar itu benar dan berikanlah kepada kami kekuatan untuk mengikutinya, dan tunjukanlah yang salah itu salah dan berikanlah kami kekuatan untuk menjauhinya.” Tentu untuk dapat mengetahui yang benar itu benar dan yang salah itu salah membutuhkan suatu proses, dan proses ini terjadi apabila kita mau dan mampu berpikir kritis. Seseorang akan susah berpikir kritis apabila lebih banyak dipengaruhi pikiran non-logisnya (perasaan, dorongan, dll). Karena itu kita juga meminta kekuatan untuk bisa mengikuti yang benar dan menjauhi yang salah itu, yaitu tanpa diganggu perasaan atau faktor non-logis lain.

Berpikir kritis bukan berarti mengabaikan semua pengaruh non-logis, namun berguna untuk memfilternya. Manusia diciptakan memiliki kecenderungan untuk mengikuti pengaruh non-logis dan alam bawah sadar tentu ada maksudnya, karena dorongan yang susah dikendalikan secara sadar seperti perasaan, motivasi, dan sebagainya juga berguna dalam pengambilan keputusan. Hanya saja jangan sampai dorongan tersebut lebih berpengaruh ketika logika berpikir kritis mengatakan yang sebaliknya. Apabila setelah kita memikirkan matang-matang dengan logika, kita tidak merasa bahwa sesuatu hal adalah buruk, silakan saja mengikuti dorongan perasaan atau keinginan. Begitu pula jangan sampai dorongan itu (misal: rasa takut, enggan, malas) menghalangi kita dari memilih sesuatu yang baik.

Logika sebagai kacamata

Seperti yang sudah saya katakan, apabila kita sering setuju, sepaham, atau mengikuti seseorang, akan ada kecenderungan untuk mengikuti orang itu lagi. Begitu pula apabila kita sering berbeda pendapat, berdebat, atau bahkan membantah seseorang, kita akan cenderung untuk terus berbeda. Inilah yang menyebabkan fanatisme pada orang-orang tertentu tanpa mau mendengarkan alasan pihak lain, dan juga bisa menyebabkan tidak mendengarkan perkataan orang yang sebelumnya sering berbeda, yaitu apabila berlebihan. Sebenarnya kecenderungan ini secara umum wajar, asal tidak berlebihan, karena adanya rasa percaya, yaitu orang yang sebelumnya sering kita setujui atau ikuti maka besar kemungkinan akan bisa dipercaya lagi. Hanya saja kita perlu ingat untuk tetap selalu menggunakan pikiran kritis kita.

Nah, kenapa saya juga mengatakan kalau orang cenderung tidak mengikuti atau bahkan ada dorongan untuk membantah orang yang sering berbeda dengannya? Karena saya adalah jenis orang seperti itu, yaitu sering bertentangan dan membuat orang lain tidak setuju. Akibatnya adalah lama-kelamaan mereka jadi merasakan ada dorongan untuk tidak setuju dan membantah saya, terlepas dari benar-salah saya jika dipikir dengan logika. Sebenarnya saya tidak ada masalah dengan hal ini, asal argumentasi mereka masih bisa dinalar dengan logika, dan jika mereka mau menerima dan mengikuti saya apabila pada akhirnya terbukti saya yang benar. Tentu, saya juga akan mengikuti mereka apabila mereka bisa membuktikan kalau mereka benar.

Sifat berseberangan mungkin adalah sifat bawaan saya, namun saya tidak bermaksud berbeda pendapat hanya karena ingin menjadi berbeda. Seringkali saya menyampaikan pendapat yang berbeda dengan orang lain, meskipun sebenarnya saya setuju, untuk memberikan antithesis pada pemikiran mereka, dan antithesis penting untuk mencapai sinthesis. Pemikiran yang tidak ditantang akan stagnan, dan kelemahan serta kekurangannya tidak diperbaiki. Antithesis akan menyadarkan kita tentang kekurangan dan kelemahan pemikiran kita, agar kita bisa memperbaiki pemikiran tersebut. Antithesis juga akan memberikan gambaran tentang konsekuensi dan tantangan untuk pemikiran kita, agar kita bisa memformulasikan taktik dan strategi untuk penerapannya. Hopefully, pada akhirnya bisa tercapai sinthesis.

Tidak setiap saat saya selalu bertentangan dengan orang lain. Biasanya saya hanya mengambil sikap berbeda pendapat apabila suatu ide atau pendapat sudah umum, hanya mungkin saya rasa perlu diperdalam pemahamannya atau mungkin perlu diperbaiki agar jadi lebih baik lagi. Apabila saya setuju dengan suatu pendapat, dan pendapat itu bukanlah suatu pendapat yang umum, saya akan memilih untuk mengambil sikap setuju dan mendukung.

Sebagai seseorang yang sering berbeda pendapat dengan orang lain, saya memiliki keinginan mendapati orang-orang yang bisa berpikir kritis, yaitu memikirkan secara logis terlebih dahulu sebelum setuju atau tidak setuju dan tidak hanya mengikuti perasaan atau dorongan yang ada. Mempertimbangkan apa yang dikatakan dan kebenaran dalam perkataan itu, dan bukan siapa yang mengatakan dan apa yang dirasakan saat mendapati perkataan itu.

Apabila dibiarkan, alam bawah sadar dan perasaan (suka, benci, takut, dll), bisa mendistorsi logika pengambilan keputusan, sehingga jangankan mendapatkan kebenaran, seseorang bisa terjerumus dalam keadaan mencari pembenaran. Saya berharap kita semua bisa berpikir kritis, ultimately agar kita bisa menjadi orang-orang yang mencari kebenaran, bukan sekedar pembenaran, dan pada akhirnya bisa mendekati kebenaran itu sedekat-dekatnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s