Lost in Language

Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Seringkali kita menggunakan istilah bahasa asing dalam keseharian kita, apalagi bagi yang mempelajari bahasa asing. Menggunakan kata-kata yang kita pelajari adalah bagian production dari bahasa, yang berguna untuk meningkatkan fluency berbahasa kita. Ini adalah wajar dan merupakan bagian dari proses pembelajaran, namun akan menjadi tidak wajar apabila kita menggunakan kata dan istilah tersebut tanpa tahu maknanya.

Sebagai seorang muslim, saya sering menggunakan bahasa Arab dalam keseharian, mulai dari mengucapkan salam sampai ketika membaca bacaan saat melaksanakan shalat. Begitu pula muslim yang lain, tentu sama dengan saya. Yang menjadi perhatian saya sejak dulu dan terlintas kembali akhir-akhir ini adalah kualitas bahasa Arab saya.

Bertemu dan berbincang-bincang dengan seorang asing yang fasih berbahasa Arab, saya jadi teringat bagaimana kualitas bahasa Arab saya sangatlah kurang baik. Mulai dari pronunciation, sebagai orang jawa dengan lidah yang medok (kecuali kalau sengaja dibuat “agak” nggak medok), sangatlah susah bagi saya untuk pronounce beberapa huruf Arab, terutama yang mirip-mirip (bagi saya) seperti س ش ص ض ط ظ. Susah bagi saya, karena mungkin dulu saya tidak diajari untuk pronounce dengan benar, terlebih lagi orang-orang di sekitar saya juga memiliki pronunciation yang juga tidak bisa dikatakan benar (setidaknya begitu yang dikatakan teman yang fasih berbahasa Arab tersebut). Meski demikian saya akan terus berusaha memperbaiki pronunciation saya.

Makhaarijul-Huruuf - Articulation Points of the Letters

Makhaarijul-Huruuf 2 - Articulation Points of the Letters

Aspek yang lain adalah pemahaman. Banyak sekali ucapan dalam bahasa Arab di keseharian seorang muslim, karena itu sudah sepantasnya kalau kita tahu dan paham arti dari kata-kata berbahasa Arab yang  kita ucapkan. Setidaknya seharusnya begitu. Saya tidak bisa berbicara banyak untuk orang lain, selain untuk diri saya sendiri. Seringkali saya khilaf dan hanya mengucapkan kata-katanya tanpa menghayati arti dan maknanya. Contoh pada waktu memberikan salam, seringkali saya hanya mengucapkan “assalaamu ‘alaikum” tanpa benar-benar berdoa dalam hati, “salam (damai dan keselamatan) bagimu”.

Sedangkan untuk hal yang saya dapati pada sebagian orang adalah mereka sembarangan mengucapkan salam. Ini bisa berbahaya karena terpeleset sedikit saja kita bisa mengucapkan “assamu ‘alaikum” yang artinya “celaka bagimu”. Mereka yang mengucapkan secara tergesa-gesa rawan untuk mengalami kesalahan ini. Selain itu mengucapkan salam secara terlalu cepat dapat menghalangi kita dari benar-benar menghayati arti dari kata salam yang kita ucapkan, yaitu mendoakan keselamatan, rahmat, dan berkah Allah.

Selain itu seringkali kita menyingkat ucapan salam pada saat melakukan komunikasi melalui tulisan, seperti email, chat, dan SMS. Sebagian ulama berpendapat bahwa hal ini bisa mengurangi makna dan esensi dari salam. Saya sendiri harus mengakui kalau saya jangankan menyingkat salam dalam tulisan, menuliskannya saja jarang. Saya juga harus mengakui kalau saya masih jarang memulai percakapan telepon dengan salam, kecuali mungkin dengan orang-orang tertentu, meski selalu berusaha menutup telepon dengan salam. Saya juga jarang mengucapkan salam apabila bertemu dengan sesama muslim, kecuali dengan orang-orang tertentu atau apabila berada dalam tempat tinggal, meski biasanya mengucapkan alam apabila berpisah. Semuanya adalah kebiasaan yang perlu diubah.

Sesuatu yang buruk bisa dimulai dari kelalaian, dan apabila dibiarkan akan menjadi kebiasaan. Begitu pula dengan tidak mengucapkan salam maupun pengucapan salam yang salah. Kata “assalaamu ‘alaikum” sudah menjadi bagian dari masyarakat Indonesia, bahkan guru Bahasa Indonesia saya waktu SMP pernah mengatakan kalau kata “assalaamu ‘alaikum” sudah diserap menjadi kata dalam bahasa Indonesia. Akibatnya bagi orang Indonesia, yang berbeda suku dan agama, mengucapkan salam adalah sesuatu yang wajar. Dan yang terjadi adalah salam yang diucapkan dengan dialek yang berbeda-beda, yang saya khawatirkan mengubah artinya. Saya anggap hal ini sebagai kelalaian, dan sudah menjadi kebiasaan yang susah diubah. Karena itu saya ingin mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk itu, setidaknya dari diri saya sendiri.

Salam bukanlah satu-satunya ucapan berbahasa Arab di keseharian seorang muslim, hendaknya kita juga menggunakan ucapan-ucapan lain, seperti memulai sesuatu dengan basmallah, bersyukur dengan hamdallah, istighfar saat khilaf, dan sebagainya. Saya ingin membiasakan agar ucapan-ucapan itu tidak hanya di bibir saja, namun juga saya hayati arti dan maknanya dalam hati agar benar-benar menjadi berarti dan bermanfaat bagi saya. Saya yakin ucapan-ucapan tersebut apabila dihayati dengan baik akan berpengaruh positif bagi diri kita secara psikologis, selain tentu saja akan mempertebal keimanan kita.

Begitu pula dengan bacaan shalat dan saat membaca Al-Quran. Dengan memahami setidaknya arti dari kata-kata berbahasa Arab tersebut kita jadi bisa lebih mendapatkan manfaat dari shalat dan membaca Al-Quran yang kita lakukan tersebut. Minimal dengan menghayati arti kata-katanya, dan dibarengi dengan penyerahan diri pada Allah pada saat membacanya, hati kita menjadi tenang. Karena itu saat ini saya ingin belajar bahasa Arab, terutama bahasa Arab klasik yang digunakan dalam Al-Quran, agar dapat lebih memahami dan menghayati bacaan-bacaan yang saya baca tiap hari.

Insya Allah, agar saya tidak asing dengan agama saya sendiri karena asing dengan bahasa yang digunakan. I don’t want to be lost in the language.

Wassalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

One thought on “Lost in Language

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s