Ingin Tahu

Definitions of curiosityWaktu kecil rasa ingin tahuku membuatku suka menjelajahi setiap sudut rumah. Aku hobi membongkar laci dan memanjat lemari untuk melihat apa yang ada di atasnya. Aku juga suka mengobrak-abrik gudang dan mencari segala sesuatu yang menarik bagiku. Obeng adalah teman baikku saat itu. Tidak ada mainanku saat kecil yang tidak pernah “kumainkan” dengan obeng. Terkadang hanya sekedar membuka dan melihat dalamnya, terkadang aku mempretelinya sampai bagian-bagian terkecil. Tentu saja, banyak yang tidak bisa aku kembalikan ke kondisi semula.

Rasa ingin tahuku membuatku suka membaca. Setiap kali di “penjelajahanku” aku menemukan buku, majalah, atau apapun yang bisa dibaca, aku akan membuka dan membacanya. Hampir tidak ada buku di lemari buku di rumahku yang belum pernah aku buka waktu itu. Bukan hanya di rumahku, aku sering main ke rumah temanku hanya untuk mengobrak-abrik tumpukan majalah lama untuk kubaca. Bahkan ketika temanku itu tidur siang pun, aku tetap asyik dengan bacaanku.

Fast forward. Aku sudah bukan anak kecil lagi, tapi rasa ingin tahu itu tetap ada. Hanya saja aku sudah tidak terlalu banyak membaca. Bahkan porsi bacaan rutinku jauh lebih sedikit dibandingkan porsi bacaan teman-temanku. Aku memang masih punya rasa ingin tahu, hanya saja dalam bentuk yang berbeda. Aku jadi ingin tahu tentang orang-orang di sekitarku. Aku suka bertanya dan seringkali terkesan seperti menginterogasi, sehingga membuat orang lain jengkel. Memang bukan hal yang menyenangkan bila kita ditanyai tentang hal-hal yang tidak ingin kita ceritakan, apalagi bila kita merasa dipaksa.

Ya, aku sadar itu bukan sifat yang baik. Selain membuat orang jengkel, pertanyaan yang tidak terjawab juga akan membuatku jengkel. Padahal aku bukan orang yang mudah emosi, dan hal itu adalah satu dari sedikit hal yang bisa membuatku emosi, yaitu ketika aku bertanya dan tidak mendapatkan jawaban. Karena itu aku berusaha memperbaiki, dan sejauh ini aku sudah tidak terlalu banyak bertanya apalagi sampai memaksa.

Aku menanamkan di dalam benakku, kalau itu adalah hak privasi mereka untuk tidak memberitahukan tentang hal-hal tertentu. Aku juga melatih otakku untuk menganggap pertanyaan yang tidak terjawab sebagai hal yang tidak penting. Sedikit banyak ini lumayan berhasil, tapi rupanya aku masih belum sepenuhnya bebas dari sifat itu. Terkadang aku masih suka bertanya dengan memaksa, apalagi pada kasus-kasus yang menarik atau kepada orang-orang yang kuanggap dekat.

Tidak mudah mengubah kecenderungan yang ada pada diri sendiri, butuh waktu dan kesabaran. Dan akan sangat membantu apabila ada yang mau mengingatkanku untuk terus memperbaiki diriku. Jadi sampai aku benar-benar bisa memperbaiki sifatku itu, aku ingin mengatakan kepada siapa saja yang pernah atau mungkin akan tersinggung karena pertanyaan-pertanyaanku: I’m sorry if my persistent questioning offended you, I ask because I care.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s