Kaum Muslim Menyingkapi Informasi

Kita hidup di masa yang penuh dengan lalu lintas informasi, informasi bisa dengan mudah didapatkan maupun disebarluaskan. Saya ingin menyorot kata information yang dekat dengan kata inform atau memberitahukan. Apa yang diberitahukan atau disampaikan? Bisa jadi berupa fakta, atau untuk lebih tepatnya interpretasi dari fakta, yaitu fakta yang dipengaruhi faktor-faktor subjektif dari pelapor. Ini bisa berupa keterbatasan data, existing beliefs, kemampuan bahasa, nalar, dan sebagainya.

Dalam banyak kasus, faktor subjektif akan kuat mempengaruhi penyampaian informasi sehingga kita mendapatkan versi-versi berbeda dari suatu peristiwa. Hal ini adalah sesuatu yang wajar karena faktor-faktor subjektif tadi akan tetap ada meski tidak disadari atau disengaja. Hal ini menyebabkan ketidakakuratan bahkan kekeliruan.

Kita harus selalu menyadari bahwa informasi, bahkan yang disampaikan oleh orang paling jujur sekalipun, tidak lepas dari subjektifitas. Ilmu psikologi manusia menyatakan bahwa pikiran manusia memiliki banyak cacat dan kekurangan, yang mempengaruhi penerimaan dan penyampaian informasi. Dalam dunia ilmiah terdapat kutipan (citation dan quotation) yang bisa digunakan untuk mengetahui akurasi informasi.

Hadits

Dalam Islam, kutipan digunakan dalam pengumpulan hadits. Setelah Rasulullah ﷺ wafat, terdapat banyak narasi hadits yang simpang siur dan bahkan saling bertentangan. Kumpulan hadits pada masa itu mirip seperti informasi pada masa sekarang, memiliki pelapor yang berbeda dan isi yang berbeda pula untuk suatu hal yang sama. Mungkin hal ini salah satu alasan Rasulullah ﷺ pernah melarang menulis perkataan beliau [1], yaitu mungkin beliau mengkhawatirkan tercampurnya perkataan yang asli dari beliau dengan yang diada-adakan.

Pada perkembangannya hadits tetap dikumpulkan berupa tulisan, namun dilakukan upaya-upaya untuk menyaring hadits-hadits yang ada sehingga bisa didapatkan hadits yang akurat. Salah satu bentuk upaya ini adalah dengan membuat klasifikasi hadits berdasarkan keautentikan: shahih, hasan, dan dhaif; dan berdasarkan urutan periwayat narasi (sanad): mutawatir dan ahad.

Penggunaan sanad -suatu bentuk kutipan- sangat penting untuk mengetahui tingkat keakuratan hadits. Sanad digunakan untuk mengetahui urutan periwayat hadits, mulai dari sumber asal (biasanya Rasulullah ﷺ) hingga sampai ke pengumpul hadits. Kutipan memudahkan penelitian tentang tingkat keauntentikan hadits. Hadits bisa ditolak apabila salah satu saja urutan periwayatnya tidak kredibel.

Penggunaan sanad dalam hadits sangat penting dalam upaya menyaring hadits. Jika dikaitkan dengan informasi, kutipan sangatlah penting untuk alasan yang sama. Di masa yang dipadati informasi yang simpang-siur, kita sebagai kaum muslim berkewajiban untuk menyaring apa saja yang sampai ke kita. Kita wajib memeriksa, mempelajari lebih dalam, kalau perlu menanyakan kepada orang yang sangat paham di bidang yang bersangkutan, sebelum mempercayai apalagi menyebarluaskan. Dan penggunaan kutipan akan sangat berguna dalam hal ini.

Dakwah

Dakwah tidak lepas dari penyampaian informasi. Sebelum bisa menyampaikan informasi, tentu kita harus mendapatkan informasi tersebut terlebih dahulu. Saya merasa prihatin dengan keadaan sebagian kaum muslim saat ini yang mudah percaya dengan apa yang sampai pada mereka tanpa merasa perlu melakukan verifikasi terlebih dahulu. Tak jarang mereka kemudian menyebarkan informasi tersebut dengan niat dakwah padahal mereka tidak memiliki ilmu tentangnya. Banyak kaum muslim sekarang percaya begitu saja apabila terdapat hal-hal berbau Islam, seperti jika disinggung tentang hadits atau tulisan dalam bahasa Arab.

Menyebarkan provokasi atau informasi yang tidak benar menjadi sangat mudah, karena mereka yang mendapatkan informasi akan percaya begitu saja akan kebenarannya, bahkan menyebarluaskan dengan meyakini bahwa itu adalah perbuatan yang baik. Tentu niat yang baik akan mendapatkan balasan pahala, namun perbuatan menyebarkan informasi yang salah akan membawa kesesatan dan kerusakan. Saya yakin di antara kita tidak ada yang menginginkan hal itu terjadi, karena itu kita harus tahu dasar dari informasi yang kita peroleh.

Seringkali saya menemukan seseorang menggunakan argumentasi seperti: “di Al-Qur’an kan ada” (padahal tidak tahu surah dan ayatnya), “ada haditsnya kok” (sudah tidak menyebutkan periwayat, kitab apa nomor berapa, apakah itu hadits shahih, hasan, atau dhaif), “sudah sering dibahas di kajian lho” (ini tambah parah, malah tidak jelas dasarnya), dan sebagainya. Bagi saya itu adalah bentuk keacuhan, dan keacuhan adalah awal dari kebodohan. Kita harus berdakwah dengan ilmu pengetahuan, karena kita harus memastikan apa yang kita sampaikan itu benar.

Waspadalah

Saya ingin mengingatkan bahwa kita hidup dalam masa yang penuh dengan informasi yang simpang siur. Anda mungkin pernah mendengar tentang ghazwul fikri (perang pemikiran), suatu istilah yang saya rasa cukup populer bagi kaum muslim Indonesia. Terlepas dari konteks keagamaan (muslim dan non-muslim), perang pemikiran adalah bagian dari kehidupan di dunia ini. Pemikiran yang berbeda akan berbenturan, dan yang kuat akan mengalahkan yang lemah. Mereka yang menguasai informasi akan “menyerang” mereka yang tidak waspada. Mereka yang acuh dan bodoh akan terombang-ambing seperti buih di lautan.

Mungkin karena rasa ingin tahu saya yang cukup besar, seringkali ketika membaca suatu artikel keagamaan saya akan melakukan cek ulang atau mencari pandangan yang berbeda. Akses Internet memudahkan saya untuk melakukan ini. Hasilnya saya bisa menemukan artikel lain yang lebih lengkap atau bahkan bertentangan dengan yang sudah saya baca. Memang, bila ada yang tidak kita mengerti tentang sesuatu sebaiknya kita tanyakan kepada yang sangat paham dalam hal itu, seperti seorang ulama atau guru agama. Namun ketika kita sedang tidak memiliki akses ke mereka, Internet bisa kita jadikan alat untuk mendapatkan gambaran awal.

Internet sendiri adalah tempat yang sangat berbahaya apabila kita tidak waspada, karena di dalamnya terdapat banyak informasi yang menyesatkan. Internet pada dasarnya adalah alat. Seperti halnya pedang, kita bisa menggunakannya untuk hal-hal yang positif namun juga bisa terlukai apabila tidak waspada. Tapi kalau kita bisa menguasainya, kita jadi bisa melindungi diri sendiri dari orang lain yang ingin mencelakai kita.

Pengalaman Saya

Dari pengalaman saya melakukan verifikasi, saya sering menemukan ketidakakuratan informasi yang berhubungan dengan pengutipan. Dalam hal mengutip Al-Qur’an, beberapa kali saya menemukan ayat yang dikutip sebagian yang mendukung pendapat penulis, padahal ayat yang lengkap bisa memiliki arti yang berbeda. Bisa juga ayat ditulis lengkap namun ayat tersebut bersambung dan berhubungan dengan ayat sebelum dan/atau sesudahnya yang tidak dituliskan.

Ada juga yang salah memberikan nomor ayat yang salah, walaupun saya bisa menemukan ayat yang dimaksud karena biasanya saya juga akan membaca beberapa ayat sebelum dan sesudah ayat yang dicantumkan untuk mendapatkan gambaran lebih jelas tentang arti dan maksud ayat yang bersangkutan. Terkadang terdapat perbedaan penterjemahan, saya menganggap hal ini sebagai sesuatu yang bisa dimaklumi.

Dari pengalaman saya lebih banyak ketidakakuratan yang berhubungan dengan hadits, begitu pula dengan jenis ketidakakuratannya. Mungkin karena tidak semua muslim memiliki kitab hadits sehingga tidak berusaha untuk melakukan verifikasi, sehingga ketidakakurasian itu mudah lolos untuk dipercayai. Berbeda dengan kitab Al-Qur’an yang saya rasa tiap muslim memiliki.

Seringkali saya mendapati kisah tentang Rasulullah ﷺ ataupun para sahabat yang tidak disertai sumber hadits atau kitabnya. Hal ini cukup mengganggu bagi saya karena saya cukup sensitif dengan keauntentikan hadits. Saya tidak suka dengan tidak disebutkannya sumber, karena saya jadi tidak bisa melakukan verifikasi.

Begitu pula dengan tidak disebutkannya tingkat keautentikan suatu hadits. Hal ini cukup penting karena apabila Anda pernah membaca artikel yang ditulis orang anti-Islam, mereka banyak mengutip hadits yang apabila Anda melakukan verifikasi akan mendapatkan bahwa hadits tersebut adalah hadits dhaif (lemah) dan munkar (tertolak). Perlu diketahui bahwa beberapa ahli hadits juga mengumpulkan hadits dhaif bukan untuk digunakan sebagai dasar hukum, namun hanya untuk kajian keilmuan.

Seperti halnya Al-Qur’an, terdapat pula hadits yang hanya dikutip sebagian padahal hadits tersebut sebenarnya panjang, sehingga bisa mengaburkan makna aslinya.

Beberapa kali saya menemukan hadits yang ketika saya memeriksa di kitab yang bersangkutan, saya tidak menemukan hadits seperti yang dituliskan. Pada dasarnya saya tidak bisa memvonis bahwa hal ini adalah kesalahan atau upaya untuk menyesatkan umat, karena masih ada kemungkinan penggunaan referensi yang berbeda bisa menyebabkan hal ini [2]. Namun saya juga jadi tidak bisa percaya dengan isi artikel yang bersangkutan dan akan memilih sumber lain yang memiliki referensi yang bisa diverifikasi.

Saya juga pernah menemui tulisan dengan suatu hadits yang bagian awalnya sama dengan referensi yang sama miliki, namun mulai bagian tengah diubah dan kemudian ditambahi sehingga isinya jadi berbeda jauh. Pernah juga saya menemui hadits yang berisikan perkataan seseorang selain Rasulullah ﷺ yang diatribusikan kepada beliau, sehingga seolah-olah beliaulah yang mengatakan hal tersebut.

Penutup

Saya ingin mengajak saudara dan saudariku umat muslim untuk selalu waspada dengan segala macam informasi, terutama dalam hal keagamaan. Bahkan informasi dari orang yang paling bisa dipercaya sekalipun bisa tidak akurat, karena tidak ada manusia yang sempurna. Seorang ulama yang paling mumpuni juga bisa salah. Karena itu mari kita usahakan untuk selalu mencatat referensi yang disampaikan, seperti surah dan ayat untuk Qur’an, dan untuk hadits, setidaknya ahli haditsnya, kalau perlu kitab dan nomor hadits. Begitu pula bagi Anda yang ingin menyampaikan informasi, untuk selalu berhati-hati dengan yang akan disampaikan. Pastikan dulu kebenarannya, setidaknya pastikan sumber dan referensi yang Anda gunakan itu benar.

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Q.S.17:36)

Seseorang yang beriman dan berilmu lebih utama dari seseorang yang hanya beriman saja, karena hanya dengan ilmu kita bisa mengetahui apa-apa yang benar untuk diimani. Tanpa ilmu kita bisa terjerumus mengimani sesuatu yang salah yang membawa kita pada kesesatan, dan kesesatan akan sangat susah diluruskan apabila diyakini sebagai kebenaran. Dengan selalu waspada dengan informasi di sekitar kita, mari kita jadikan diri kita sebagai seorang muslim yang lebih cerdas dan berilmu.

Sekian dari saya, semoga bermanfaat. Saya percaya saya adalah makhluk yang tidak sempurna, karena itu apabila ada sesuatu yang dianggap salah, silakan komentar, kritik, dan sarannya.


Catatan:
1) Hadits Riwayat Muslim, Kitab Al-Zuhd wa Al-Raqa’iq [42] no.7147 (terjemahan Abdul Hamid Siddiqui; atau kitab yang sama juz 16 hadits 5303 untuk versi bahasa Arab). Sebagian mengatakan karena beliau khawatir hadits akan digunakan untuk menggantikan Qur’an.
2) Biasanya saya hanya memeriksa hadits riwayat Bukhari dan Muslim, dengan referensi bahasa Inggris terjemahan M. Muhsin Khan untuk Shahih Bukhari dan Abdul Hamid Siddiqui untuk Shahih Muslim. Terkadang saya juga menggunakan terjemahan Prof. Ahmad Hasan untuk Sunan Abu Dawud dan Aisha Abdarahman at-Tarjumana dan Yaqub Johnson untuk Al-Muwatta Imam Malik. Terjemahan ini bisa ditemui di Internet, baik untuk dibaca online maupun untuk di-download berupa .pdf maupun .chm.

One thought on “Kaum Muslim Menyingkapi Informasi

  1. Tabea… Nice artikel. Saya juga bisa belajar dari tulisan Anda ini. Agar lebih menguasai ilmu pengetahuan guna membesarkan iman kepercayaan kepada yang Maha Kuasa Allah seluruh umat manusia. Terima kasih,-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s