Sembelit Lalu Lintas

Kemacetan lalu lintas sudah lama menjadi penyakit kronis yang mencekik kehidupan kota Jakarta. Ya, saya katakan mencekik karena entah berapa besar kerugian yang diakibatkannya, baik materiil maupun non-materiil. Bayangkan berapa banyak rupiah yang bisa dihasilkan bila sekian jam dalam sehari yang dihabiskan dalam perjalanan yang macet bisa digunakan untuk sesuatu yang produktif; berapa banyak orang yang berkurang stress-nya karena waktu bisa digunakan untuk menghilangkan stress dan bukannya malah menambahnya; dan hal-hal lain yang bisa dilakukan bila tidak menghabiskan sekian jam dalam sehari terjebak dalam kemacetan. Saya pikir Anda dan siapapun akan setuju, bahwa kemacetan ini HARUS diperbaiki, dan SEGERA!

Kita semua tentu tahu, penyebab utama kemacetan lalu lintas adalah terlalu banyaknya kendaraan, terutama kendaraan pribadi roda empat. Mobil menyediakan kenyamanan dan keamanan lebih, terutama ketika cuaca dan lingkungan tidak bersahabat; sejuknya kabin dengan pendingin udara, dengan pintu dan jendela tertutup dan terkunci rapat. Sayangnya seringkali mobil hanya mengangkut satu atau dua orang saja, dengan kapasitas minimal bisa untuk lima orang. Terlebih lagi banyak mobil memiliki  bagian depan untuk mesin dan bagian belakang untuk bagasi sehingga semakin banyak memakan tempat.

 

Solusinya tentu saja penggunaan sarana transportasi umum. Ada kecenderungan yang saya tangkap bahwa kendaraan umum, terutama angkutan dalam kota, adalah kendaraan alternatif apabila pengguna tidak memiliki kendaraan pribadi atau sedang tidak bisa menggunakan kendaraan pribadinya. Dengan kata lain, kendaraan pribadi masih menjadi pilihan utama. Ini karena kendaraan umum yang ada masih dirasa sangat kurang, baik dari segi kenyamanan, keamanan, maupun kehandalan. Kendaraan umum dalam kota sampai saat ini hampir semuanya (atau mungkin semuanya) masih menggunakan jalur jalan raya yang tidak dipisahkan dengan jalan yang digunakan kendaraan lain selain kendaraan umum, sehingga terpengaruh macet-tidaknya jalur yang dilalui.

Bus Rapid Transit (BRT) atau Busway adalah sistem transportasi umum menggunakan bus yang menyediakan layanan yang lebih cepat dan efisien daripada jalur bus biasa. Saat artikel ini ditulis, terdapat delapan kota di Indonesia yang sudah menerapkan sistem BRT, yaitu Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Bandung, Bogor, Palembang, Pekanbaru, dan Batam. Untuk daerah yang lalu-lintasnya relatif tidak padat, BRT bisa jadi solusi yang baik; untuk daerah yang lalu-lintasnya padat apalagi rawan macet, BRT malah seperti gali lubang tutup lubang. Tak jarang kemacetan malah makin menjadi. Kualitas layanan BRT yang diharapkan bisa dicapai dengan menyediakan jalur khusus untuk bus BRT yang tidak boleh digunakan oleh kendaraan lain malah mempersempit jalanan yang macet sehingga semakin macet. Pengguna jalan pun terkadang menyerobot ke jalur BRT. Tak hanya masyarakat umum, pada pertengahan tahun lalu mobil pejabat tinggi negara tertangkap kamera sedang menyerobot jalur BRT. Sterilisasi jalur busway pun dilaksanakan mulai awal bulan Agustus. Diharapkan sterilisasi ini bisa memangkas waktu tempuh bus hingga 30 persen. Tidak disebutkan efek sterilisasi ini pada waktu tempuh kendaraan lain yang terjebak macet di jalanan yang sama.

[BERSAMBUNG]

2 thoughts on “Sembelit Lalu Lintas

    • sambungannya masih bermacet-macet di kepala… 😀

      pernah lah, duluuu sekali. meski dulu lebih sering main ke jakarta waktu akhir pekan, tapi juga ngrasain macet. tapi yang paling berkesan waktu ke jakarta hari kerja jam agak siangan, jam 9-10an. bah, ga ikut nyetir aja udah stress, padahal naik kendaraan ber-AC… wew…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s