Tanya Kenapa

Manusia terkadang mengalami atau menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginannya. Bisa berupa kekecewaan, kegagalan, ataupun musibah. Ketika hal itu terjadi, terdapat suatu perasaan susah menerima keadaan, dan timbullah pertanyaan-pertanyaan yang diawali dengan kata “mengapa” atau “kenapa.” Banyak lagu yang berisikan pertanyaan “kenapa,” salah satu yang terkenal adalah lagu evergreen yang berjudul The End of the World dengan “why does the sun go on shining.” Beberapa tahun yang lalu juga terdapat suatu jargon iklan yang sangat terkenal, yaitu “tanya kenapa,” yang seringkali isi iklan tersebut menyentil fenomena di masyarakat kita.Gambar Sentilan Iklan Rokok, credit to original owner

Pada dasarnya pertanyaan “kenapa” adalah mencari tahu sebab terjadinya sesuatu, dan akan berguna bila digunakan untuk mencari tahu tentang hubungan sebab-akibat untuk hal-hal yang jelas, seperti dalam lingkup ilmiah atau ilmu pasti. Namun pertanyaan “kenapa” dalam konteks kehidupan yang tidak pasti lebih mengarah pada suatu bentuk rasa ketidakpuasan atau rasa tidak terima atas apa yang terjadi, dan pertanyaan itu biasanya ditujukan kepada keadaan, nasib, atau kepada Tuhan. Akan sulit mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersebut karena yang ditanyai pada dasarnya tidak menjawab, setidaknya tidak dengan jawaban yang berupa kata-kata. Seringkali pertanyaan “kenapa” itu berujung pada suatu sikap menyalahkan.

Beberapa waktu yang lalu saya pergi ke toko buku dan membaca sebuah buku yang di dalamnya terdapat catatan wawancara seseorang ketika dia menjadi relawan di Aceh setelah bencana tsunami beberapa tahun lalu. Dikatakannya bahwa keadaan di lapangan saat itu sangat sulit, dan menjadi lebih sulit lagi karena turun hujan yang sangat deras. Dia bercerita bahwa dia sangat kecewa dengan hujan itu, dan mempertanyakan kepada Tuhan mengapa pada keadaan yang sudah sangat sulit itu kok Tuhan masih saja mempersulit. Singkat kata dia dengan terang-terangan menyalahkan Tuhan. Kata-kata yang dia gunakan adalah, “bahwa Tuhan juga bisa salah.” Sebagai catatan, orang tersebut adalah anggota suatu forum keagamaan Hutan Layu (sengaja disamarkan).

Seorang teman saya juga pernah mengalami kekecewaan dalam hidupnya. Dia merasa dia kok belum diberi apa-apa yang diinginkannya, padahal menurutnya dia sudah berusaha sangat keras, begitu pula dengan doa yang tak henti-hentinya. Namun dia hanya menemukan kekecewaan, terlebih lagi ketika dia menemukan seseorang yang menurut dia usahanya tidak sekeras usaha dia namun bisa mencapai keinginannya. Dan dia pun mulai menanyakan pertanyaan klasik itu, “mengapa?” Singkat kata dia kemudian mengalami masa “ngambek” kepada Tuhan.

Pada dasarnya manusia menginginkan kebahagiaan dan menghindari penderitaan, oleh karena itu akan ada kecenderungan untuk susah menerima keadaan yang tidak diinginkan. Pertanyaan “kenapa” adalah suatu wujud dari rasa tidak bisa menerima itu, atau dengan kata lain, ketidak-ikhlasan. Seperti halnya rasa tidak ikhlas bisa menimbulkan pertanyaan “kenapa,” pertanyaan tersebut juga bisa menyebabkan bertambahnya rasa tidak ikhlas. Jadi, agar bisa mencapai ikhlas kita harus menghindari pertanyaan “kenapa” itu.

Pertanyaan “kenapa” hanya menanyakan sebab terjadinya sesuatu. Ketika seseorang tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan atau bahkan tidak mendapatkan jawaban sama sekali, dia akan cenderung menyalahkan pihak lain tanpa mau memperhatikan bagaimana sesuatu hal bisa terjadi apalagi mencari solusinya. Pertanyaan “kenapa” sangatlah tidak produktif karena waktu dan energi kita hanya akan habis untuk meratapi masalah dan menyalahkan pihak lain.

Jadi, sebagai gantinya tanyakan “bagaimana…?”

Ya, kita perlu tahu bagaimana sesuatu hal bisa terjadi. Dengan pertanyaan “bagaimana” kita dituntut untuk secara aktif mencari tahu tentang apa saja yang terjadi serta hubungan sebab-akibatnya. Kita dituntut melakukan break-down permasalahan tersebut, sehingga kita jadi bisa mengetahui proses mulai dari awal hingga akhir yang terdiri dari kejadian-kejadian yang lebih kecil, yang masing-masing memiliki hubungan sebab-akibat yang jelas. Kita jadi lebih bisa memahami apa yang terjadi baik secara detil maupun keseluruhan.

Apabila kita memahami bagaimana sesuatu bisa terjadi kita jadi bisa mengetahui bagaimana sesuatu bisa tidak terjadi, maupun sebaliknya. Dengan memahami bagaimana kita bisa gagal, kita bisa mengetahui cara supaya bisa berhasil. Dengan kata lain, pertanyaan “bagaimana” memungkinkan kita untuk lebih memahami permasalahan, sehingga kita bisa memformulasikan solusi yang tepat.

Pertanyaan “bagaimana” pada dasarnya juga memberikan jawaban atas pertanyaan “kenapa,” yaitu gambaran sebab terjadinya hal tersebut. Kita bukan hanya mendapatkan satu sebab, melainkan kumpulan sebab-sebab dari tiap-tiap bagian kecil dari kejadian yang lebih besar. Kita jadi mengetahui bagian mana saja yang perlu diperbaiki. Kita juga jadi memiliki pilihan untuk hanya memperbaiki atau memprioritaskan bagian-bagian tertentu yang lebih mudah diperbaiki apabila memungkinkan. Bahkan kalaupun kita menemukan hal-hal yang tidak bisa diubah, saya yakin akan jadi lebih mudah bagi kita untuk menerimanya, karena kita menemukan hal-hal lain yang bisa kita perbaiki.

Sekarang bayangkan diri anda mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan, entah itu kegagalan atau cobaan. Kemudian tanyakan kenapa hal itu bisa terjadi. Apakah anda akan mendapatkan jawaban yang memuaskan? Mungkin iya, tapi apabila anda menggunakan kata “bagaimana” anda akan mendapatkan jawaban yang lebih lengkap dan jelas atas permasalahan anda.

Kemudian bayangkan anda berhadapan dengan seseorang yang memiliki masalah. Bayangkan dia hanya menanyakan mengapa dia mengalaminya. Bagaimana menurut anda? Kemudian bayangkan dia menanyakan bagaimana dia mengalami masalah tersebut. Bagaimana menurut anda, yang mana yang lebih memiliki aura positif?

Seperti yang sudah saya sampaikan di atas, pertanyaan “kenapa” sebenarnya berguna untuk sesuatu yang jelas, yaitu yang memiliki hubungan sebab-akibat yang langsung dan jelas. Dalam ruang lingkup ilmu pengetahuan, pertanyaan “kenapa” masih berguna meskipun juga bisa digantikan dengan “bagaimana” untuk mendapatkan jawaban yang lebih lengkap dan jelas. Namun untuk konteks kehidupan, ketika kita tidak bisa mendapatkan jawaban langsung tentang apa-apa yang terjadi, pertanyaan “kenapa” hanya akan menambah kesusahan di hati.

Pertanyaan “bagaimana” akan mengarahkan kita untuk lebih memahami proses terjadinya sesuatu dan untuk mendapatkan solusi yang tepat. Waktu dan energi akan bisa kita gunakan bukan untuk meratapi, namun untuk menyelesaikan masalah kita dengan lebih baik dan lebih cepat. Selain itu kita juga jadi lebih bisa menerima keadaan.

Jadi, kalau anda masih suka menanyakan “kenapa” apabila menemui kesusahan, tanyakan saja pada diri anda, “tanyaken apa?”

5 thoughts on “Tanya Kenapa

  1. Merubah paradigma “kenapa” menjadi “bagaimana”

    aku tau, salah satu model dalam tulisan ini, aku kan :-p

    • bah! sapa yg jadiin model? itu kan spesimen, bukan model… kayak yg biasa dibedah2 di lab itu lho…

  2. jujur ini salah satu karya teman saya orang bandar lampung yang buat ide. dia kocak baik dan pinter, dan salah satunya modelnya saya di advertising petak umpet jogja 2006. saya merasa bangga . terima kasih mas indranesia….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s