Tentang Rasa

Manusia memiliki kemampuan untuk merasakan. Merasakan adalah suatu kata kerja transitif, yaitu suatu proses mempersepsikan secara sadar sesuatu yang dirasakan, baik secara fisik yaitu melalui indra peraba, secara mental dengan membayangkan, maupun secara emosional. Pada umumnya kita mengetahui apa yang kita rasakan melalui indra peraba kita, baik itu suhu, sentuhan, dan sebagainya. Namun apakah kita mengetahui semua yang kita rasakan secara emosional?

Mari kita lihat dari referensi populer, yaitu anime (meski saya tidak banyak menonton anime). Di serial anime Initial-D, anime tentang balap mobil jalanan, tokoh utama dalam serial itu, yaitu Fujiwara Takumi, pada awalnya tidak menyadari bahwa dia menyukai balapan, karena sebelumnya dia hanya menganggap menyetir mobil sebagai bagian dari tugasnya membantu bisnis ayahnya. Dari movie anime Evangelion 2.22, salah satu tokoh utamanya, Rei, tidak bisa menjawab pertanyaan tokoh lainnya, Asuka, tentang perasaannya terhadap tokoh lain, Shinji. Dia hanya bisa menjawab kalau dia merasa hangat bila dekat dengan Shinji, dan ingin Shinji merasakan hal yang sama.

Oke, dua contoh di atas hanya dari cerita fiksi. Bagaimana dengan keadaan di dunia nyata? Seorang teman pernah menulis update status Facebook tentang apa yang dia rasakan, bukan berupa pernyataan tapi pertanyaan. “Apa yang sedang aku rasakan ini?” Hm, ternyata ada juga kasus seseorang tidak mengetahui yang dia rasakan.

Robert Plutchik membuat roda perasaan (wheel of emotions) yang membagi emosi dasar menjadi delapan: suka cita (joy), percaya (trust), takut (fear), terkejut (surprised), sedih (sadness), amarah (anger), dan antisipasi (anticipation).  Plutchik juga membagi emosi kompleks, yaitu gabungan dari lebih dari satu emosi dasar, menjadi delapan: optimisme, cinta, penyerahan diri (submission), takjub (awe), kecewa (disappointment), penyesalan (remorse), muak (contempt), dan keagresifan (aggressiveness). Kita tidak menemukan perasaan benci (hate) di roda perasaan Plutchik. Dalam klasifikasinya, Parrot menempatkan benci sebagai emosi tersier dari amarah. Terdapat beberapa bentuk klasifikasi lain, namun pada dasarnya membagi emosi menjadi emosi dasar dan emosi kompleks.

Saya yakin kita semua bisa mengetahui kalau kita merasakan perasaan atau emosi yang mendasar, namun apakah kita bisa sama dengan emosi kompleks? Contoh teman saya di atas menunjukan bahwa tidak semua orang bisa memberikan nama pada apa yang dirasakannya. Mungkin karena bahasa native dia, Bahasa Indonesia, tidak cukup spesifik dalam menjelaskan perasaan tersebut. Mungkin juga karena yang dirasakannya terdiri dari beberapa atau bahkan banyak jenis emosi yang berbeda.

Kadang kita perlu orang lain untuk menyadarkan, atau paling tidak memberi tahu kita tentang apa yang kita rasakan. Seorang teman yang lain butuh diberi tahu bahwa dia menyukai seseorang. Tadinya dia tidak merasa (atau tidak menyadari) kalau dia menyukai orang itu, padahal orang di sekitar dia mengetahui (atau jangan-jangan sok tahu, hehe) dari gerak-gerik dia saat orang itu ada. Setelah diberi tahu, pelan-pelan dia mulai menyadari (atau jangan-jangan hanya terpengaruh) kalau dia memang suka.

Kembali ke teman saya yang pertama. Kalau kita hendak menjawab pertanyaan dia tentang apa yang dia rasakan, mungkin kita akan menjawabnya dengan perasaan cinta atau yang berhubungan dengan perasaan itu. Dari pengamatan saya memang perasaan suka, naksir, infatuasi, cinta, atau apalah namanya itu, yang paling sering bikin orang bingung.

Cinta bisa bercampur dengan benci, bingung, takut, antisipasi, atau emosi lain, dan menimbulkan kebingungan. Ah, jangankan kalau bercampur dengan perasaan lain, perasaan cinta sendiri saja (yang merupakan bentuk emosi kompleks) belum tentu bisa disadari apalagi dipahami orang yang sedang merasakannya, dan tentu saja bisa membuat orang bingung.

Pernah ada yang bertanya pada saya tentang seperti apa rasanya benar-benar menyukai seseorang (cinta). Wah, saya kan jadi bingung menjawabnya. Bagaimanapun, Dr. Richard Bandler punya tip tentang bagaimana cara untuk jatuh cinta:

“Do you want to know a good way to fall in love? Just associate all your pleasant experiences with someone and disassociate from all the unpleasant ones.” -Dr. Richard Bandler-

Dari kutipan tersebut kita bisa mengira-ngira, bahwa cinta adalah kuatnya kumpulan emosi positif dan lemahnya kumpulan emosi negatif, yang kita asosiasikan dengan seseorang atau sesuatu. Saya pribadi berpendapat bahwa secara umum cinta adalah sesuatu yang kita anggap sebagai cinta. Cinta bagi seseorang mungkin akan berbeda dengan cinta bagi orang lain. Cinta bagi saya mungkin berbeda dengan cinta bagi anda. Cinta yang saya rasakan pada seseorang bisa berbeda dengan yang saya rasakan pada orang lain. Cinta yang saya rasakan sekarang bisa berbeda dengan yang saya rasakan di lain waktu. Jadi kita tidak perlu bingung dengan perasaan kita, tinggal apa yang kita inginkan dari perasaan itu dan bagaimana mengaturnya.

Bagaimana dengan cinta menurut Anda?

4 thoughts on “Tentang Rasa

  1. CINTA….
    sesuatu yang tidak dapat dideskripsikan tetapi hanya bisa dirasakan, pendeskripsian tentang cinta akan menjadikan pertentangan akan CINTA itu sendiri…

    (btw, baru tau aku klo sekarang sampean aktif nulis di blog, ada apa ini….:-p)

  2. ya itu definisimu.

    gpp, mewujudkan pikiranku menjadi tulisan. list topikku udah banyak, tinggal nulis aja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s