Makanan yang Diharamkan

Kira-kira dua-tiga bulan sebelum menulis artikel ini saya mencari informasi di Internet tentang jenis-jenis makanan yang diharamkan, dan sampai pada suatu situs web. Di sana saya mendapatkan daftar panjang makanan dan juga minuman yang dikatakan haram dan halal. Terdapat 15 jenis makanan dan satu jenis minuman yang dikatakan haram dari 25 yang dijelaskan. Sebelas dari lima belas jenis makanan tersebut dikatakan haram dengan menggunakan dasar Al-Hadits.

Setahu saya di dalam Al-Qur’an hanya disebutkan empat jenis makanan (dalam konteks makanan yang berasal dari hewan) yang secara umum diharamkan sesuai dengan isi surah Al-Maa’idah ayat 3:

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. … (Q.S.5:3)

Saya sudah mengajukan pertanyaan di situs web tersebut, namun hingga saat menulis artikel ini belum mendapatkan jawaban. Pertanyaan saya di halaman situs tersebut masih dalam status pending (belum tampak, masih menunggu konfirmasi), dan dari pengamatan saya ternyata situs web tersebut sedang tidak aktif. Saya menulis artikel ini untuk menyampaikan pendapat saya serta sebagai pertanyaan terbuka bagi siapapun yang berkenan memberikan pencerahan.

Al-Qur’an

Seperti yang disebutkan dalam surah Al-Maa’idah ayat 3, secara umum dapat disimpulkan empat jenis makanan yang diharamkan:

  1. Bangkai
  2. Darah
  3. Babi
  4. Yang tidak disembelih atas nama Allah

Kalau memang telah disebutkan empat jenis, mengapa bisa bertambah menjadi lima belas?

Rupanya dasar pemikirannya adalah Al-Hadits. Seperti yang kita tahu, Al-Qur’an banyak berisi persoalan yang masih umum. Terkadang suatu ayat dalam Al-Qur’an dijelaskan melalui ayat lain. Surah Al-An’aam ayat 145 menjelaskan bahwa darah yang tidak boleh dimakan adalah darah yang mengalir, sehingga hukum memakan darah yang tertinggal setelah hewan disembelih dan sudah berusaha dikeluarkan adalah boleh.

Terkadang Rasulullah memberikan komentar dan keterangan mengenai ayat-ayat Al-Qur’an dan dicatat berupa hadits.

Dihalalkan untuk kita dua bangkai dan dua darah. Adapun kedua bangkai itu adalah ikan dan belalang. Dan adapun kedua darah itu adalah hati dan limfa. ” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Kalau hanya berdasarkan Q.S.5:3, maka memang dimungkinkan untuk menambahkan jenis makanan yang mungkin diharamkan. Namun apakah tidak ada ayat lain yang menjelaskan tentang makanan yang diharamkan?

Jawabannya adalah ada.

Allah menjelaskan dalam surah Al-Baqarah ayat 173 dan surah An-Nahl ayat 115 mengenai empat jenis makanan yang diharamkan:

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. … (Q.S.2:173)

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; … (Q.S.16:115)

Dua ayat di atas menambahkan informasi bahwa hanya empat jenis makanan tersebut yang diharamkan. Saya adalah seorang awam yang tidak bisa berbahasa Arab, karena itu saya tidak bisa banyak berkomentar selain hanya mengikuti terjemahan yang saya miliki, yaitu kedua ayat tersebut mengandung kata “hanya.” Selain dua ayat tersebut juga terdapat satu ayat lagi yang menjelaskan tentang empat jenis makanan:

Katakanlah: ‘Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. …’ (Q.S.6:145)

Surah Al-An’aam ayat 145 menjelaskan dengan sangat jelas dan tegas perintah Allah kepada Rasulullah untuk menyampaikan, bahwa hanya ada empat jenis makanan yang hukum asalnya haram.

Lantas bagaimana bisa beberapa jenis makanan lain dikatakan diharamkan?

Hadits

Mari kita simak beberapa hadits yang dikutip sebagai dasar pemikiran diharamkannya beberapa jenis makanan [1]:

Sesungguhnya Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melarang dari (mengkonsumsi) semua hewan buas yang bertaring.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Beliau (Nabi) melarang untuk memakan semua hewan buas yang bertaring dan semua burung yang memiliki cakar.” (HR. Muslim)

Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melarang dari memakan al-jallalah dan dari meminum susunya”. (HR. Imam Lima kecuali An-Nasa`iy (3787))

Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya melarang kalian untuk memakan daging-daging keledai yang jinak, karena dia adalah najis.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Saat (perang) Khaibar, kami memakan kuda dan keledai liar, dan Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melarang kami dari keledai jinak.” (HR. Muslim)

Kita dapat melihat adanya kesamaan dari beberapa hadits di atas, yaitu bentuknya yang secara umum berupa “Rasulullah melarang …” dan tidak mencakup kejadian yang lengkap, seperti syarat/sebab pelarangan (kecuali pada hadits mengenai keledai jinak, yang akan kita bahas nanti), apakah larangan berarti mengharamkan (juga akan kita bahas), dan tidak memberikan gambaran kata-kata nabi. Dengan kata lain, hadits-hadits tersebut berupa kesaksian.

Saya tidak mengatakan bahwa hadits di atas tidak shahih, namun cenderung ke bagaimana hadits tersebut lebih kepada interpretasi periwayat hadits. Terdapat kemungkinan bahwa memang Rasulullah melarang, namun untuk situasi dan kondisi tertentu yang tidak disebutkan di hadits-hadits di atas.

Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- mengharamkan -yakni saat perang Khaibar- daging keledai jinak dan daging baghol. (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)

Hadits di atas memberikan keterangan tambahan (-yakni saat perang Khaibar-), yang bisa berimplikasi bahwa hukum haram (kali ini kata yang digunakan bukan “melarang”) hanya berlaku pada saat perang Khaibar. Namun dalam hal ini secara umum kita mengartikannya sebagai saat kejadian hadits itu.

Berbeda dengan Al-Qur’an yang sempurna ketika Rasulullah wafat, hadits Nabi adalah catatan sepanjang hidup beliau. Bisa saja suatu hadits memiliki kekuatan hukum, sampai ada hadits lain atau bahkan ayat Al-Qur’an yang mengatur hal yang bersangkutan. Dalam hal ini adalah surah Al-An’aam ayat 145.

Terdapat contoh lain tentang bagaimana Rasulullah tidak memakan namun juga tidak mengharamkan, yaitu untuk hewan sebangsa kadal, dhabb:

Makanlah dan berikanlah makan dengannya (dhabb) karena sesungguhnya dia adalah halal.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Ibnu ‘Umar)

Ketika ditanyai mengenai kenapa beliau tidak memakannya, Rasulullah menjawab:

Tidak apa-apa, hanya saja dia bukanlah makananku.”

Terdapat pula beberapa hadits yang digunakan sebagai dasar pemikiran, meskipun tidak secara langsung mengatakan bahwa yang disebutkan adalah haram dimakan:

Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melarang membunuh shurod, kodok, semut, dan hud-hud.” (HR. Ibnu Majah dengan sanad yang shohih)

Ada lima (binatang) yang fasik (jelek) yang boleh dibunuh baik dia berada di daerah halal (selain Mekkah) maupun yang haram (Mekkah): Ular, gagak yang belang, tikus, anjing, dan rajawali.” (HR. Muslim)

Menurut mereka yang mengharamkan, binatang yang dibunuh saja tidak boleh tentu saja tidak boleh dimakan. Selain itu, menurut pendapat mereka binatang yang diperintahkan (meskipun kata-kata yang digunakan -setidaknya di terjemahan- adalah “boleh dibunuh”) untuk dibunuh tentu saja tidak boleh dimakan.

Sekali lagi saya orang awam dalam masalah hadits dan bahasa Arab, tapi menurut saya kata “membunuh” memiliki arti menghilangkan nyawa dengan tujuan utama untuk menghilangkan nyawa itu sendiri. Terdapat kata lain yang sering digunakan yaitu “menyembelih” yang lebih kepada menghilangkan nyawa, dengan memotong urat leher, dengan tujuan untuk dijadikan makanan. Saya pikir konteks dua hadits tersebut adalah untuk definisi menghilangkan nyawa tanpa tujuan untuk dijadikan makanan.

Saya juga berpendapat bahwa semut (dan serangga lain) hukumnya bisa disamakan dengan belalang, yaitu boleh dimakan bangkainya.

Hukum Tambahan

Al-Bukhari mencatat beberapa hadits tentang keledai jinak, yang salah satunya:

“Seseorang datang kepada Rasulullah dan berkata: ‘keledai-keledai jinaknya sudah dimakan (oleh kaum Muslim).’ Nabi tetap diam. Kemudian orang itu datang lagi dan berkata, ”keledai-keledai jinaknya sudah dimakan.’ Nabi tetap diam. Orang itu datang lagi untuk ketiga kalinya, ‘keledai-keledai jinaknya sudah dikonsumsi.’ Dengan itu Nabi menyuruh seseorang untuk mengumumkan pada orang-orang, ‘Allah dan Nabi-Nya melarang kalian memakan daging keledai jinak.’” (HR.Bukhari Kitab Al-Maghaazi Bab 36 Hadits 3876)

Kita bisa melihat bahwa ternyata Rasulullah tidak langsung melarang memakan daging keledai (jinak), namun bisa jadi suatu bentuk reaksi terhadap perkataan orang tersebut yang diulang sampai tiga kali.

Dalam hadits lain -yang sudah disebutkan- kita mendapatkan bahwa keledai itu dikatakan najis. Dalam hadits Bukhari lain (Al-Maghaazi, B36 H3896) disebutkan bahwa terdapat pendapat tentang sebab dilarangnya memakan daging keledai adalah “… karena Khumus-nya belum dikeluarkan” atau “… karena keledai memakan kotoran.

Dari sini kita bisa mengatakan bahwa larangan ini bisa bersifat kondisional, yang berarti kalau kondisi ini terpenuhi maka larangan akan berlaku, yaitu ketika keledai belum bersih dari Khumus (arti: seperlima, misal seperlima dari rampasan perang, untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil) atau keledai itu memakan makanan yang najis.

Di dalam surah Al-A’raaf ayat 157 disebutkan bahwa salah satu ciri Rasulullah adalah mengharamkan Al-Khabaits (yang buruk dan keji). Sebagian ulama menghubungkan Al-Khabaits dengan sesuatu yang merugikan, misal makanan yang tidak baik bagi kesehatan, beracun, dan sebagainya. Sebagian juga menghubungkannya dengan makanan yang menjijikkan. Kita perlu paham bahwa “menjijikkan” bersifat subjektif atau berbeda-beda tergantung orangnya. Karena itu dikatakan dalam surah Al-An’aam ayat 145, tidak haram “bagi yang hendak memakannya.

Kita bisa menyimpulkan bahwa ada hal-hal tambahan yang bisa mengubah hukum suatu hal. Makanan halal yang didapatkan dengan cara haram tentu hukumnya akan menjadi haram pula. Makanan halal yang mengandung racun juga akan menjadi haram.

Melarang Berarti Mengharamkan?

Mari kita simak hadits Bukhari yang diriwayatkan dari Ibnu Umar sebagai berikut:

“Pada hari (perang) Khaibar Rasulullah saw. pernah melarang memakan bawang putih dan daging keledai jinak. (HR. Bukhari Kitab Al-Maghaazi Bab 36 Hadits 3891)

Kalau kita mengikuti pola sebelumnya tentu kita bisa menyimpulkan kalau memakan bawang putih hukumnya haram.

Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Baari (VII/482) berkata, “Dari penggabungan antara larangan memakan bawang putih dan larangan makan daging keledai jinak dapat diambil satu faidah, yaitu boleh mempergunakan satu lafadz untuk makna hakiki dan majaz sekaligus. Sebab larangan makan daging keledai hukumnya haram sedangkan larangan memakan bawang putih hukumnya makruh, kemudian kedua makna tersebut digabungkan dalam satu lafadz yaitu larangan. Lafal larang digunakan pada makna hakiki yaitu haram dan makna majazi yaitu makruh.

Saya tidak tahu dasar pemikiran bagaimana yang satu (keledai jinak) bisa menggunakan makna hakiki (haram) sedang yang lain (bawang putih) menggunakan makna majazi (makruh) (kemungkinan karena di hadits lain disebutkan bahwa bawang putih tidak haram), yang jelas kita bisa menyimpulkan bahwa ternyata kata “melarang” tidak harus berarti mengharamkan. Ketika Rasulullah melarang memakan sesuatu, belum tentu berarti beliau mengharamkannya, namun bisa jadi karena situasi dan kondisi, atau sebatas memakruhkan.

Yang Berhak Mengharamkan

Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad pernah mengharamkan diri beliau sendiri minum madu, untuk menyenangkan hati isteri-isterinya. Maka Allah memberikan peringatan:

(1). Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (2). Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S.66:1-2)

Ternyata Nabi Muhammad sendiri tidak bisa mengharamkan apa yang Allah halalkan. Apabila kita menghubungkan dengan surah Al-An’aam ayat 145, kita mendapatkan bahwa Allah memerintahkan Rasulullah untuk menyampaikan bahwa Allah tidak mengharamkan makanan, bagi yang mau memakannya, selain empat jenis yang disebutkan di ayat tersebut.

Allah memberikan peringatan tegas kepada mereka yang mengharamkan yang halal.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Q.S.5:87)

“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rezki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal.” Katakanlah: “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah ?”” (Q.S.10:59)

(116). Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (117). (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih.” (Q.S.16:116-117)

Mari kita simak perintah Allah dalam surah Al-An’aam ayat 150:

“Katakanlah: “Bawalah kemari saksi-saksi kamu yang dapat mempersaksikan bahwasanya Allah telah mengharamkan (yang kamu haramkan) ini.” Jika mereka mempersaksikan, maka janganlah kamu ikut pula menjadi saksi bersama mereka; dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, …” (Q.S.6:150)

Allah telah memberikan kita nikmat yang luar biasa dengan memberikan kita kebebasan untuk memakan makanan apapun yang kita inginkan, kecuali yang telah Allah haramkan, sesuai dengan surah Al-An’aam ayat 145. Maka hendaknya kita menjauhi sifat Bani Israil yang suka menanyakan hal-hal yang memberatkan diri mereka sendiri.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (Q.S.5:101)

Kesimpulan

Apabila kita merasa bimbang kita perlu kembali ke Al-Qur’an dan Al-Hadits. Apabila kita merasa bimbang dengan hadits, kita kembalikan pada Al-Qur’an. Ketika Ibnu ‘Abbas ditanyai mengenai hukum haramnya keledai jinak, beliau memilih berpegang pada surah Al-An’aam ayat 145, seperti yang dicatat oleh Bukhari (Kitab Al-Zaba’ih, B28 H5224) dan Abu Dawud. Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengutip dan mendukung Ibnu ‘Abbas. Saya agak heran mengapa ayat yang sangat krusial dalam menentukan hukum haram tersebut tidak dibahas secara jelas di beberapa artikel yang saya temukan di Internet yang membahas tentang makanan yang diharamkan.

Saya merasa bahwa penafsiran sebelumnya tentang isi hadits tidak sesuai dengan pemahaman saya tentang beberapa ayat Al-Qur’an yang telah saya sebutkan. Saya memilih untuk mengikuti Al-Qur’an, seperti halnya Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Katsir. Saya percaya bahwa pada dasarnya Allah hanya mengharamkan memakan empat jenis makanan, yaitu babi, darah yang mengalir, bangkai, dan yang tidak disembelih dengan menyebut nama Allah. Kalaupun Rasulullah melarang untuk memakan jenis-jenis makanan selain yang telah diharamkan di dalam Al-Qur’an, menurut saya hukumnya adalah makruh. Meskipun demikian sebaiknya kita juga menghindari yang makruh.

Sebelum saya akhiri tulisan ini saya ingin menyampaikan isi bagian akhir ayat-ayat yang saya kutip.

“… Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S.5:3)

“… Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S.2:173)

“…; tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S.16:115)

“… Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S.6:145)

Demikian pendapat saya mengenai makanan yang diharamkan, beserta dasar pemikiran saya. Seandainya ada yang dirasa salah, silakan memberikan komentar.


Catatan:
[1] Hadits yang ada di artikel ini sebagian saya copy-paste dari artikel yang bersangkutan, termasuk terjemahan dan periwayatnya. Sebagian lain adalah Shahih Bukhari yang sudah saya periksa, dengan referensi yang saya gunakan adalah versi Bahasa Inggris terjemahan M. Muhsin Khan, dengan sedikit menggunakan versi Bahasa Arab untuk referensi tambahan. Shahih Bukhari yang sudah saya periksa saya tuliskan nama kitab, nomor bab (juz), dan nomor hadits-nya sesuai dengan versi Bahasa Arab.

5 thoughts on “Makanan yang Diharamkan

  1. Tulisan bagus, namun saya ingin menambahkan sedikit untuk menjadi bahan pemikiran. Tambahan ini merujuk pada sebuah kaidah fiqih.

    Semua makanan pada dasarnya adalah halal hingga ada dalil yang mengharamkan.

    Dan suatu hukum akan tetap hingga ada dalil yang menghukumi yang lain. Jadi apabila dihukumi haram, namun tidak ada yang menjelaskan kehalalannya, maka hukumnya tetap haram. Sama seperti orang hutang, dan ada saksi / surat hutang, maka hutang itu tetap harus dibayar meskipun pada kenyataanya sudah dibayar, hanya karena yang berhutang tidak memiliki bukti.

    Adapun surat al-maidah ayat 3 tidak mencantumkan keharaman khamr / minuman keras. Namun di ayat lain, al-maidah ayat 90, dicantumkan keharamannya.

    Tidak lupa ingin saya tambahkan, surat al-Maidah ayat 4:
    Mereka menanyakan kepadamu: “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?.”
    Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang thayyib”

    Pembahasan kata thayyib tentu hal lain. Hal inilah yang menjadi dasar pengharaman rokok oleh beberapa ulama.

    • terima kasih mas Khol, akhirnya ada yang mau ngasih pencerahan. 😀

      memang ttg khamr ga banyak disinggung krn tulisan di atas lbh khusus ke makanan (bukan minuman :D) yg berasal dari hewan (sori, cm disinggung sekali di awal), kalau khamr memang ayatnya terpisah.

      ttg rokok, aku pikir mmg dua kata itu, thayyib dan khabaits, yg dijadikan dasar pemikirannya.

      sebenarnya pokok dari tulisan ini adalah bagaimana sepertinya (krn ilmu fiqihku sangat kurang) hadits dijadikan pegangan mengharamkan sesuatu, padahal ada ayat tsb (Q.S.6:145) yg (setidaknya menurutku) bisa dijadikan dasar untuk tidak mengharamkan, setidaknya sebagian, makanan2 yg disebutkan.

      juga ttg bagaimana ayat tadi tidak aku temui di artikel2 yg membahas makanan2 yg diharamkan. Aku percaya ada penjelasannya, cm sayangnya blm aku temui. Mgkn mas Khol mau menjelaskan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s