Manajemen Cinta

Pagi ini (12/11) saya membaca sebuah status update teman di dinding akun facebook saya, yang isinya sebuah pertanyaan: “Jatuh Cinta atau Belajar untuk Mencintai?” Spontan saya memberikan komentar, “manajemen cinta.” Biasanya kita menemukan di cerita-cerita, baik dari novel, sinetron, film layar lebar, dan lain sebagainya, sepasang insan yang “jatuh cinta.” Kata yang digunakan adalah “jatuh” yang menggambarkan keadaan yang di luar kontrol atau bukan suatu kesadaran. Sebaliknya di status FB teman saya tersebut dikatakan “belajar untuk mencintai,” yang menggambarkan suatu proses sadar yang disertai usaha untuk mencapai perasaan yang disebut cinta. Kemudian saya juga membawa apa yang saya sebut “manajemen cinta,” yang tidak hanya menggambarkan proses sadar untuk mencapai cinta, namun lebih dari itu tentang bagaimana perasaan “cinta” itu bisa dikelola dengan prinsip dasar manajemen, yaitu POLC (Planning, Organizing, Leading, Controlling).

Ketika seseorang membicarakan cinta, pada umumnya mereka akan merunut kepada perasaan “sangat suka” terhadap suatu objek, yang seringkali adalah sesosok lawan jenis. Dalam bahasa Indonesia, kita menggunakan kata “cinta” untuk berbagai konteks, termasuk “cinta monyet,” “cinta orang tua,” “cinta sesama,” “cinta dunia,” “cinta harta,” dan lain sebagainya. Dalam bahasa Inggris dikenal istilah infatuation dan dalam dunia psikologi dikenal yang namanya limerence. Kita tidak akan banyak membahas tentang dua istilah tersebut untuk saat ini, dan akan membahas manajemen “cinta” dalam konteks perasaan tertarik, intim, dan komitmen dengan lawan jenis. Dalam teori segitiga cinta, ini yang dinamakan consummate love.

Segitiga Cinta

Cinta sempurna (consummate love) memiliki tiga komponen yang harus terpenuhi; (1) keintiman, yaitu perasaan kedekatan (closeness), keterjalinan (connectedness), dan keterikatan (bondedness); (2) gairah (passion), yaitu dorongan ke arah romansa dan daya tarik, termasuk secara seksual; (3) komitmen, yaitu pilihan dan keteguhan untuk bersama, dengan segala konsekuensinya. Untuk mencapai cinta sempurna, tiga hal tersebut harus bisa diraih.

Persiapan

Bagian pertama adalah planning, perencanaan. Bagi yang belum memiliki pasangan/calon pasangan (target), untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, pertama kita harus mengerti apa yang sebenarnya kita inginkan. Kita tanyakan pada diri sendiri, tepatnya apa yang kita inginkan dari lawan jenis; serta jenis hubungan yang kita inginkan. Sebisa mungkin gunakan bentuk kalimat positif dan spesifik, seperti “memiliki wajah yang cakep seperti artis A,” dan bukan “memiliki wajah yang tidak terlalu jelek.”

Setelah kita mengetahui apa yang kita inginkan, identifikasikan di mana kita bisa menemukan seseorang yang seperti itu. Kemudian memahami preferensi dari orang-orang dengan tipe tersebut, sebagai bagian dari bagaimana untuk mendapatkan orang itu. Bagi yang sudah memiliki pasangan/calon pasangan, perencanaan lebih kepada bagaimana memahami karakteristik pasangan, dan bentuk hubungan yang diinginkan ke depannya. Inti dari perencanaan adalah menetapkan sasaran dan memformulasikan strategi yang efektif untuk mencapainya.

Mengorganisasi atau organizing mencakup bagaimana memahami dan mengoptimalkan aset yang kita miliki, seperti fisik, kemampuan komunikasi, keberanian, dan sebagainya; dan memanfaatkannya untuk mencapai sasaran dan tujuan, yaitu menarik hati target. Setiap individu juga memiliki preferensi yang unik, namun baik laki-laki maupun perempuan pada dasarnya memiliki beberapa hal mendasar yang diinginkan dari lawan jenisnya.

Tujuan kita di sini adalah memperbaiki diri agar menjadi individu yang didambakan, bukan hanya dengan be yourself tapi dengan be your best self. Ini adalah sebuah proses on-going yang berlangsung terus-menerus, mulai dari sebelum menemukan calon pasangan, ketika proses pendekatan, dan seterusnya sampai akhir hayat. Saya tidak akan membahas hal-hal yang diinginkan seseorang pada lawan jenisnya pada tulisan kali ini, anda bisa mencarinya di Internet dengan mesin pencari.

Dicintai

Setelah persiapan adalah bagian yang sangat penting, yaitu implementasi. Do it! Lakukan apa yang harus kita lakukan seperti yang sudah direncanakan. Bagi yang belum memiliki pasangan/calon pasangan, bagian ini banyak mencakup bagaimana kita harus keluar untuk bersosialisasi dan menemukan sosok yang diidamkan. Inisiatif dan peran aktif sangat penting, karena itu bagian ini disebut leading. Kita harus mampu mengetahui apa yang harus dilakukan untuk tiap situasi dan kondisi yang berbeda, dan terlebih lagi, kita harus melakukannya.

Bagian leading ini menyangkut pelaksanaan strategi dan taktik untuk mencapai tiga hal yang telah disebutkan. Dengan kata lain membuat orang lain jatuh cinta pada kita. Dalam beberapa buku tentang manajemen, bagian ini disebut actualizing.

Daya tarik bisa didapatkan dengan cara memperbaiki penampilan luar, seperti perawatan tubuh, kebugaran, dan pakaian. Namun lebih dari penampilan luar, daya tarik bisa didapatkan dengan menciptakan kepribadian yang percaya diri, menyenangkan, unik, dan memiliki pendirian. Daya tarik diciptakan dari value kita di mata orang lain, dengan kata lain secara subjektif, bukan objektif.

Keintiman berhubungan dengan rapport yang terjalin. Salah satu cara menjalin rapport adalah dengan menemukan kesamaan-kesamaan. Selain itu juga bisa dibentuk dengan menemukan perbedaan yang saling melengkapi. Jadilah pendengar yang baik dan berikan banyak perhatian.

Komitmen diraih dengan mendapatkan keyakinan dan kepercayaan, untuk itu kita perlu membangun kredibilitas terlebih dahulu. Teori investasi perasaan mengatakan bahwa seseorang yang melakukan sesuatu (terutama dengan kemauan sendiri) untuk lain (=berinvestasi) akan lebih terikat pada investasinya tersebut (berkomitmen). Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan sedikit jual mahal, sehingga target akan melakukan usaha lebih (=investasi). Gunakan taktik tarik-ulur bila diperlukan.

Anda bisa menggunakan mesin pencari untuk mendapatkan info lebih detil dari Internet tentang bagaimana cara mencapai tiga hal tersebut.

Mencintai

Sebagian orang lebih bisa membuat orang lain menyukai dia daripada membuat dirinya sendiri menyukai orang lain. Adakalanya seseorang berada pada keadaan perlu membangkitkan rasa cinta pada orang lain, misal: suami-istri yang perlu membangkitkan gairah percintaan.

Ibaratnya menanam tumbuhan, cinta membutuhkan lahan (hati), benih (rasa suka), dan seringkali butuh perawatan (interaksi positif). Yang pertama adalah hati. Untuk dapat mencintai, seseorang perlu mengawali dengan niat yang lurus dan tulus dalam hati. Pastikan bahwa kita menginginkan yang baik, dan mengarah pada yang lebih baik, baik untuk diri kita sendiri maupun untuk pasangan kita. Relationship should be a win-win solution.

Ikhlas untuk memulai sesuatu yang baru berarti harus melepaskan yang telah lampau. Banyak orang masih membandingkan pasangan mereka dengan orang lain di masa lalu mereka ketika memulai suatu relationship baru. Hal ini hanya akan mengganggu hubungan yang akan terjalin. Kita perlu memahami bahwa, seperti kata lirik lagu, semua tak sama dan tak akan pernah sama. Kita tidak perlu membanding-bandingkan, hargailah orang lain just the way she/he is.

Begitu pula kita juga tidak perlu  mempermasalahkan masa lalu pasangan, kalau memang sudah berlalu dan tidak berpengaruh pada hubungan kita. Istilah yang sering kita temui adalah membuka lembaran baru.

Kita perlu melatih kemampuan untuk menemukan sesuatu yang baik dari orang lain, dan kemudian menghargainya dengan sungguh-sungguh. Kemampuan untuk menghargai dan menyukai hal-hal yang baik, bahkan sampai ke hal yang terkecil, adalah kunci untuk membangkitkan perasaan suka, yang kemudian bisa dikembangkan menjadi perasaan sayang dan cinta. Kita juga perlu melatih kemampuan untuk mensyukuri dengan hati.

Tidak ada salahnya jika kita juga memberi masukan tentang preferensi kita pada pasangan/calon pasangan. Kita boleh mengharapkan perubahan dari pasangan, asalkan hal itu baik, mungkin dilakukan, dan tidak bertentangan dengan kemauannya.

Untuk membangkitkan rasa kedekatan dengan orang lain, kita perlu membuka diri pada pasangan kita. Ini mungkin akan terasa menakutkan pada awalnya, karena bagaimanapun tidak ada orang yang ingin tersakiti. Karena itu pastikan terlebih dahulu bahwa pasangan kita bisa dipercaya. Lakukan sedikit demi sedikit apabila belum terbiasa. Tanam rasa percaya kita secepat dan hanya secepat kita mampu melakukannya, sebanyak dan hanya sebanyak pasangan kita bisa dipercaya. Adakalanya kita bisa langsung percaya, dan adakalanya membutuhkan waktu. You may take your time.

Saya memiliki sebuah pertanyaan, lebih dulu mana cinta atau pengorbanan? Tidak perlu bingung karena tidak ada jawaban yang salah. Cinta mendorong kita untuk berkorban, dan pengorbanan menjadikan kita semakin cinta. Seperti yang dikatakan teori investasi perasaan, berkorbanlah untuk orang lain dengan tulus, maka anda akan lebih mencintai dia. Anda tidak perlu langsung melakukan hal-hal besar. Mulailah dari hal-hal kecil seperti membantu pekerjaan yang ringan, membuatkan minuman, dan sebagainya. Ketulusan adalah kuncinya. Melakukan sesuatu karena terpaksa tidak akan menambah rasa sayang anda. Jadikan pengorbanan sebagai sesuatu hal yang menyenangkan.

Keseimbangan

Keseimbangan adalah hal yang sangat penting dalam suatu hubungan. Keseimbangan mencakup banyak hal, seperti mencintai dan dicintai, take-and-give, peran dalam hubungan, membagi waktu dan perhatian untuk diri sendiri dan untuk pasangan, ketegasan dan toleransi, dan sebagainya. Keseimbangan juga mencakup cinta yang dirasakan dengan kasih sayang yang diberikan. Menjaga keseimbangan  adalah bagian controlling dari POLC.

Saya tidak banyak membahas banyak tentang keseimbangan, kecuali sedikit tentang cinta yang dirasakan dan kasih sayang yang diberikan. Salah satu perbedaan dua hal tersebut adalah sudut pandang, yang satu dari sudut pandang yang mencintai, dan yang lain dari sudut pandang yang dicintai. Pada dasarnya adalah bagaimana perasaan cinta kita wujudkan dalam sikap dan perilaku yang tepat. It is not what you feel, it is how you make them feel.

Mungkin anda pernah menemukan kasus seseorang yang mengatakan mencintai orang lain namun malah menyakiti mereka. Hal ini karena orang tersebut merasa memiliki hak tak terbatas atas orang yang dicintainya itu. Dia merasa paling tahu apa yang paling baik buat mereka, karena itu dia memaksakan kehendaknya. Hal ini terjadi karena adanya ketergantungan emosional yang berlebihan kepada yang dicintai.

Kita perlu memahami bahwa bahkan orang-orang yang sedang menjalin hubungan pun adalah dua individu yang berbeda, yang masing-masing memiliki kemauan dan kemampuan untuk berpikir. Karena itu diperlukan suatu rasa saling menghormati. Masing-masing berhak dan berkewajiban untuk mencapai cita-cita dan kebahagiaannya sendiri. Tugas pasangan adalah memahami, mendukung, dan memfasilitasi. Meski demikian, pasangan juga berhak untuk memberikan pendapat dan berusaha meyakinkan pasangannya, asal tidak sampai memaksakan kehendak. Jalin dan pertahankan komunikasi yang baik.

Salah satu masalah yang sering dialami laki-laki dan perempuan adalah perbedaan yang mendasar dalam cara berpikir dan berkomunikasi. Karena itu dibutuhkan suatu kemampuan untuk saling memahami. Memahami berbeda dengan mengetahui. Memahami adalah bagaimana menerima dan menyingkapi perbedaan setelah sebelumnya mengetahui secukupnya. Dengan kata lain, kita tidak perlu mengetahui terlalu banyak untuk bisa memahami. Tiap orang memiliki hak privasi bahkan terhadap pasangan, dan pasangan harus menghargai.

In a Relationship

Adakalanya kita membutuhkan orang lain selain pasangan kita untuk menjaga hubungan yang sehat. Orang-tua, teman, dan sahabat yang mendukung hubungan kita. Apabila telah menikah, akan hadir pula anak-anak yang akan meramaikan kehidupan rumah tangga. Hargai kehadiran mereka semua, dan tempatkan pada posisi yang sepantasnya. Ini adalah sisi staffing dari manajemen cinta.

Manusia membutuhkan motivasi untuk menjalin dan mempertahankan hubungan. Motivasi pada saat hubungan telah berjalan cukup lama mungkin bisa berbeda dengan motivasi sebelum atau pada awal hubungan. Mempertahankan motivasi atau menemukan motivasi baru adalah bagian dari mempertahankan hubungan. Bangun dan bagilah impian bersama pasangan, dan fokuslah pada apa yang bisa diraih. Kehadiran anak-anak dalam keluarga juga bisa memberikan motivasi dan sense of purpose dalam kehidungan rumah tangga anda. Mensyukuri hubungan yang terjalin adalah salah satu cara untuk mempertahankan motivasi.

Kemampuan untuk mencintai adalah anugerah yang luar biasa dari Sang Pencipta, karena itu kita wajib mensyukuri dengan cara yang bertanggung jawab. Hubungan dengan lawan jenis sepantasnya didasarkan pada niat yang baik untuk mencapai yang baik dengan cara yang baik. Pernikahan seharusnya dijadikan salah satu tujuan yang baik tersebut, untuk mencapai hal-hal yang lebih baik lagi. Mari kita jaga hati kita agar terus dapat mencintai dengan sebenar-benarnya cinta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s