Mirror

Narcissus yang mencintai bayangannya

Pernahkah kamu bertemu seseorang, dan merasakan bayangan dirimu di dirinya? Kita mendapatkan kemiripan dan kesamaan, seperti melihat diri kita sendiri di dalam cermin. Cermin, yang memantulkan bayangan kita bila kita melihat ke dalamnya. Seseorang bisa menjadi cermin bagi orang lain, dengan kesamaan yang disadari maupun yang tidak. Semakin kita dekat dengan dengan seseorang, semakin kita mendapatkan kemiripan dan kesamaan. Hingga kita mendapati sosok yang mendekati diri kita sendiri. Mirror, the reflections of ourselves.

Dua orang yang memiliki hubungan yang baik bagaikan cermin bagi satu sama lain. Baik itu dalam pertemanan, persahabatan, romantika, dan lain sebagainya. Kita merasa nyambung dengan mereka yang dekat dengan kita, istilah yang sering aku pakai adalah “berada di gelombang yang sama.” Rasanya seperti ada yang menghubungkan, suatu rasa kesamaan, rasa nyaman, in a way seperti melihat diri kita sendiri di cermin. We think in similar manner, talk in similar manner, even behave in similar manner. We’re in rapport.

Rapport, pada dasarnya adalah sesuatu yang wajar dan alamiah yang ada pada orang-orang yang memiliki kedekatan. Suatu rasa keintiman. Kebanyakan orang tidak menyadari, atau bahkan tahu tentang rapport. Rapport lebih mudah terbentuk karena kemiripan dan kesamaan. Oleh karena itu, kita lebih mudah merasa akrab dan dekat dengan orang yang mirip dengan kita, atau memiliki suatu kesamaan dengan kita, dalam hal pemikiran, perilaku, ketertarikan, bahkan hal-hal kecil seperti kesamaan kota kelahiran. Dengan mengetahui kesamaan itu kita jadi merasa lebih dekat dengan orang tersebut.

Sekitar sepuluh tahun yang lalu aku mulai tertarik dengan komunikasi non-verbal, khususnya bahasa tubuh. Aku jadi tahu yang namanya mirroring. Mirroring pada dasarnya adalah bagaimana dua orang atau lebih yang memiliki hubungan dekat memiliki kesamaan gesture satu sama lain. Dengan kata lain, saling meng-copy gesture. Lebih jauh lagi, mirroring menggambarkan kesamaan secara umum, mulai dari cara komunikasi verbal seperti gaya bicara, nada bicara, pilihan kata, hingga hal-hal mendasar seperti cara bernafas.

Hingga satu-dua tahun terakhir, aku hanya tau gesture mirroring. Aku juga cuma tahu kalau mirroring adalah akibat dari kedekatan, bukan penyebab. Setelah aku tahu kalau mirroring bukan hanya pada gesture, dan mirroring bisa menjadi penyebab rasa kedekatan, aku jadi semakin tertarik dan semakin aware dengan mirroring di sekitarku, baik oleh diriku sendiri maupun orang lain. Aku jadi menyadari bagaimana cara bicaraku yang menyesuaikan dengan gaya bicara lawan bicaraku adalah suatu bentuk pacing (me-mirror). Dengan pengetahuan yang ada padaku saat ini, aku jadi tahu bagaimana cara menjalin rapport secara sadar.

I am a mirror. What do you think?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s