Tentang Rasa

Manusia memiliki kemampuan untuk merasakan. Merasakan adalah suatu kata kerja transitif, yaitu suatu proses mempersepsikan secara sadar sesuatu yang dirasakan, baik secara fisik yaitu melalui indra peraba, secara mental dengan membayangkan, maupun secara emosional. Pada umumnya kita mengetahui apa yang kita rasakan melalui indra peraba kita, baik itu suhu, sentuhan, dan sebagainya. Namun apakah kita mengetahui semua yang kita rasakan secara emosional?

Mari kita lihat dari referensi populer, yaitu anime (meski saya tidak banyak menonton anime). Di serial anime Initial-D, anime tentang balap mobil jalanan, tokoh utama dalam serial itu, yaitu Fujiwara Takumi, pada awalnya tidak menyadari bahwa dia menyukai balapan, karena sebelumnya dia hanya menganggap menyetir mobil sebagai bagian dari tugasnya membantu bisnis ayahnya. Dari movie anime Evangelion 2.22, salah satu tokoh utamanya, Rei, tidak bisa menjawab pertanyaan tokoh lainnya, Asuka, tentang perasaannya terhadap tokoh lain, Shinji. Dia hanya bisa menjawab kalau dia merasa hangat bila dekat dengan Shinji, dan ingin Shinji merasakan hal yang sama.

Oke, dua contoh di atas hanya dari cerita fiksi. Bagaimana dengan keadaan di dunia nyata? Seorang teman pernah menulis update status Facebook tentang apa yang dia rasakan, bukan berupa pernyataan tapi pertanyaan. “Apa yang sedang aku rasakan ini?” Hm, ternyata ada juga kasus seseorang tidak mengetahui yang dia rasakan. Baca lebih lanjut

Makanan yang Diharamkan

Kira-kira dua-tiga bulan sebelum menulis artikel ini saya mencari informasi di Internet tentang jenis-jenis makanan yang diharamkan, dan sampai pada suatu situs web. Di sana saya mendapatkan daftar panjang makanan dan juga minuman yang dikatakan haram dan halal. Terdapat 15 jenis makanan dan satu jenis minuman yang dikatakan haram dari 25 yang dijelaskan. Sebelas dari lima belas jenis makanan tersebut dikatakan haram dengan menggunakan dasar Al-Hadits.

Setahu saya di dalam Al-Qur’an hanya disebutkan empat jenis makanan (dalam konteks makanan yang berasal dari hewan) yang secara umum diharamkan sesuai dengan isi surah Al-Maa’idah ayat 3:

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. … (Q.S.5:3)

Saya sudah mengajukan pertanyaan di situs web tersebut, namun hingga saat menulis artikel ini belum mendapatkan jawaban. Pertanyaan saya di halaman situs tersebut masih dalam status pending (belum tampak, masih menunggu konfirmasi), dan dari pengamatan saya ternyata situs web tersebut sedang tidak aktif. Saya menulis artikel ini untuk menyampaikan pendapat saya serta sebagai pertanyaan terbuka bagi siapapun yang berkenan memberikan pencerahan. Baca lebih lanjut

Manajemen Cinta

Pagi ini (12/11) saya membaca sebuah status update teman di dinding akun facebook saya, yang isinya sebuah pertanyaan: “Jatuh Cinta atau Belajar untuk Mencintai?” Spontan saya memberikan komentar, “manajemen cinta.” Biasanya kita menemukan di cerita-cerita, baik dari novel, sinetron, film layar lebar, dan lain sebagainya, sepasang insan yang “jatuh cinta.” Kata yang digunakan adalah “jatuh” yang menggambarkan keadaan yang di luar kontrol atau bukan suatu kesadaran. Sebaliknya di status FB teman saya tersebut dikatakan “belajar untuk mencintai,” yang menggambarkan suatu proses sadar yang disertai usaha untuk mencapai perasaan yang disebut cinta. Kemudian saya juga membawa apa yang saya sebut “manajemen cinta,” yang tidak hanya menggambarkan proses sadar untuk mencapai cinta, namun lebih dari itu tentang bagaimana perasaan “cinta” itu bisa dikelola dengan prinsip dasar manajemen, yaitu POLC (Planning, Organizing, Leading, Controlling).

Ketika seseorang membicarakan cinta, pada umumnya mereka akan merunut kepada perasaan “sangat suka” terhadap suatu objek, yang seringkali adalah sesosok lawan jenis. Dalam bahasa Indonesia, kita menggunakan kata “cinta” untuk berbagai konteks, termasuk “cinta monyet,” “cinta orang tua,” “cinta sesama,” “cinta dunia,” “cinta harta,” dan lain sebagainya. Dalam bahasa Inggris dikenal istilah infatuation dan dalam dunia psikologi dikenal yang namanya limerence. Kita tidak akan banyak membahas tentang dua istilah tersebut untuk saat ini, dan akan membahas manajemen “cinta” dalam konteks perasaan tertarik, intim, dan komitmen dengan lawan jenis. Dalam teori segitiga cinta, ini yang dinamakan consummate love. Baca lebih lanjut

Mirror

Narcissus yang mencintai bayangannya

Pernahkah kamu bertemu seseorang, dan merasakan bayangan dirimu di dirinya? Kita mendapatkan kemiripan dan kesamaan, seperti melihat diri kita sendiri di dalam cermin. Cermin, yang memantulkan bayangan kita bila kita melihat ke dalamnya. Seseorang bisa menjadi cermin bagi orang lain, dengan kesamaan yang disadari maupun yang tidak. Semakin kita dekat dengan dengan seseorang, semakin kita mendapatkan kemiripan dan kesamaan. Hingga kita mendapati sosok yang mendekati diri kita sendiri. Mirror, the reflections of ourselves. Baca lebih lanjut