Rapatkan Barisan

Khotbah Jumat minggu kemarin mengingatkanku akan tulisan lamaku, yaitu tentang shaf sholat berjamaah. Sejak jaman SMA aku sering memikirkan keadaan shaf sholat yang aku temui, yang kebanyakan tidaklah rapat. Aku menyamakan keadaan shaf shalat dengan keadaan umat. Pun khotbah Jumat kemarin membahas yang seperti itu.

Shaf yang baik haruslah rapat, dengan pundak dan lengan antar jamaah saling bersentuhan. Seringkali ini tidak terjadi. Seringkali jamaah menjejakkan kakinya terlalu lebar, sehingga kakinya lah yang bersentuhan dengan jamaah lain, dan menyebabkan ruang di antara lengan.

Waktu SD, guruku mengajarkan cara berdiri kuda-kuda yang baik, yaitu kaki direnggangkan selebar pundak. Entah apakah itu cara kuda-kuda yang benar atau tidak, aku percaya bahwa cara berdiri seperti itu memiliki suatu filosofi; jejakkan kakimu hanya selebar ruang yang dibutuhkan oleh pundakmu. Filosofi ini mengajarkan untuk tidak berlebihan, yang dimulai dari cara berdiri. Cara berdiri sendiri bisa diartikan sebagai bagaimana kita “berdiri” dalam hidup kita. Alangkah baiknya bila kita bisa hidup dalam kesederhanaan dan tidak berlebihan.

Hal lain yang dapat menyebabkan shaf menjadi renggang adalah sajadah. Alas shalat berbentuk kotak ini seringkali malah membatasi seorang jamaat dari jamaat yang lain. Aku membandingkan sajadah dengan “kotak-kotak” dalam hidup seseorang. Manusia hidup dalam “kotak-kotak”, seperti keluarga, suku, kota, negara, partai politik, ideologi, dan lain-lain; yang seringkali membatasi kita dari orang lain di luar “kotak” kita. Namun bukankah komunitas Islam didirikan berdasarkan konsep umat, yang menghilangkan batas antar suku, ras, dan golongan? Alangkah baiknya bila sajadah kita yang indah itu kita jadikan alat yang mendekatkan dengan jamaat lain, bukan malah memisahkan, yaitu dengan berbagi dengan jamaat di sebelah kita.

Sekali lagi, shaf yang baik adalah shaf yang rapat. Kita bisa mewujudkan shaf yang rapat dengan melakukan dua hal yang sudah saya sebutkan, yaitu dengan berdiri secukupnya, dan dengan berbagi sajadah. Selain itu isilah shaf terdepan terlebih dahulu, sebelum membuat shaf baru. Kita juga merapatkan shaf dengan bergeser merapat ke tengah, yaitu ke arah belakang imam, dengan mendahulukan sisi kanan (apabila kita memulai shaf baru namun tidak ada orang lain yang menemani di shaf baru tersebut, kita mulai dari kanan shaf dengan menarik orang paling kanan untuk mundur). Kita lihat ke kanan dan ke kiri, untuk melihat apakah kita sudah lurus sejajar dengan shaf kita.

Begitu pula dengan umat. Kita bisa mewujudkan umat yang kuat dengan cara-cara seperti kita membuat shaf yang baik, yaitu dengan hidup dalam kesederhanaan, yang menjauhkan kita dari sifat merasa lebih tinggi dari orang lain; dan dengan menghilangkan ego golongan kita, apapun itu, baik keluarga, suku, ideologi, dan lain sebagainya. Kita harus ingat, bahwa kita adalah satu umat, yang mencari keridhaanNya, meskipun kita mungkin memiliki perbedaan. Kemudian kita juga perlu merapat ke imam kita, pemimpin kita. Dan tak lupa, kita harus selalu berusaha mengetahui, apakah kita sudah lurus dengan “barisan” kita, dan selalu membenahi diri.

Satu hal yang mengganjal, shaf shalat jumat minggu kemarin masih belum seperti yang aku harapkan. Entah mereka tidak mendengarkan khotbah, atau karena hal lain. Bahkan seseorang yang berpenampilan agamis, yang sebenarnya aku harapkan bisa memberikan contoh yang baik, malah melebarkan kakinya sehingga menciptakan jarak dengan jamaah di sebelahnya. Apakah ini suatu fenomena? Wallahualam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s