Lies

… I could see you’re only telling
Lies, lies, lies
Breaking us down with your
Lies, lies, lies
When will you learn…

– Lies by Glen Hansard
OST Once

Kadang kita tahu kalau orang berbohong ke kita, meski kita tak tahu bagaimana kita bisa tahu. Beberapa orang lebih peka pada kebohongan daripada yang lain, dan bukannya menyombongkan diri kalau aku bilang aku termasuk orang yang lebih mampu mendeteksi kebohongan daripada kebanyakan orang. Memang, aku nggak 100% bisa mengetahui kalau seseorang berbohong, tapi aku sering tahu, kadang langsung pada saat dia berbohong, kadang beberapa waktu setelahnya (bisa sampai beberapa hari). But overall, aku sering bisa mendeteksi kebohongan.

Sebenarnya mendeteksi kebohongan itu tidak susah, apalagi kalau kita berbicara face-to-face dengan seseorang. Most people just aren’t good at lying. Kebohongan bisa terlihat dari mata, cara bicara, body-language, dan lain sebagainya. Aku pikir sudah ada banyak buku tentang bagaimana mendeteksi kebohongan, tapi pada dasarnya kita bisa mengetahui kebohongan seseorang apabila kita merasakan ada yang janggal dari omongannya. Otak kita mampu menangkap bahasa komunikasi verbal dan non-verbal, dan karena pada umumnya orang hanya berbohong pada level bahasa verbal, otak bawah sadar kita akan menangkap kebohongan dari bahasa non-verbal. Kebanyakan orang tidak sensitif dengan informasi yang ditangkap oleh otak bawah sadar mereka, but maybe I’m not one of them. Somehow (I feel that) I can sense it when someone is lying.

Pinocchio is lying?

Will his nose grow?

Well, maybe that’s because I’m a liar myself.

You know, I lied quite a lot waktu aku masih kecil. Seperti waktu aku ketangkap basah mengambil tanaman hias di taman SD tetangga, setelah sebelumnya aku merokok sama teman-temanku di situ. Tentu saja aku berbohong ketika aku ditanyai macam-macam, mulai dari ngapain aku ada di situ, kenapa mencabut tanaman itu, akan kuapakan tanaman itu, aku dari SD mana, dll. Aku bisa berdalih kalau kebohonganku itu untuk melindungi SDku, tapi tentu saja sebenarnya untuk melindungi diriku sendiri. So yes, I wasn’t an honor student. Masih banyak kebohongan lain yang tak perlu kusebutkan di sini.

Iya sih, itu bukan masa lalu yang bisa dibanggakan. But somehow aku merasa itu bukan sepenuhnya hal yang buruk, karena dari situ aku belajar. Oke, aku belajarnya bukan langsung waktu itu, it took years after that. Waktu masa-masa aku sering berbohong itulah, entah bagaimana aku mulai bisa mendeteksi kalau ada yang berbohong. Mungkin sedikit banyak berasal dari pengetahuanku tentang bagaimana aku berbohong, dan dari sikap skeptisku yang bisa dikatakan justru tumbuh dari kebiasaan bohongku sendiri. Aku bisa merasakan kalau ada yang berbohong, mulai dari teman sampai anggota keluargaku sendiri. Perasaan eneg itu sedikit demi sedikit tumbuh dalam diriku.

Ketika aku masuk SMA, aku berteman dengan seseorang yang sering berbohong. Awalnya aku biasa saja, tapi lama-lama aku capek juga. Dan capek ini terus menumpuk setiap kali aku menemukan orang yang berbohong. Memasuki masa kuliah aku ketemu lagi dengan seseorang yang berbohong, kali ini lebih parah dari yang pernah kutemui sebelumnya, I think she’s an impulsive liar (just b’coz she’s impulsive and she’s a liar :P). Ternyata bukan hanya aku yang merasakan kejanggalan pada dia (she’s not a good liar indeed), sebagian orang menjauhi dia meski ada yang tetap jadi temannya. At first, aku berusaha mengenal dia untuk mengetahui penyebab sifat bohongnya itu. Long story short, hubunganku dengan dia merenggang sampai ke level hostility, setelah dia bermasalah dengan beberapa teman dekatku. Saat itu rasa enegku sudah menumpuk, hingga bisa dikatakan aku alergi ketidakjujuran. Aku jadi semakin susah dibohongi (atau setidaknya aku merasa begitu :D).

Salah satu cara untuk membohongiku adalah dengan menjadi a better liar than me, cara yang lain adalah dengan membuatku lengah. Like I’ve said, most people don’t lie convincingly, jadi cara pertama hanya bisa dilakukan oleh sangat sedikit orang, yang sampai saat ini aku belum pernah menemukan orang seperti itu (of course, kalau seseorang a better liar than me, aku gak akan tahu kalau dia berbohong). Cara yang kedua adalah dengan membuatku lengah dengan jujur padaku, dan kemudian berbohong lagi setelah mendapatkan kepercayaanku. Untuk melakukan ini dibutuhkan kemampuan persuasi yang baik. Sejauh ini aku baru menemukan satu orang yang (mencoba) melakukan ini, akhir-akhir ini aku diam saja kalau mendapati dia berbohong.

Bagaimanapun di mataku dusta itu sangat nggilani (menjijikkan), aku merasa simpati dengan orang-orang yang berbohong. Bagiku, seseorang berbohong ketika dia nggak bisa menerima kenyataan, atau dia merasa takut menyampaikan kebenaran karena khawatir dengan konsekuensinya kalau dia berkata jujur. Seseorang yang membohongi orang lain pada dasarnya membohongi dirinya sendiri terlebih dahulu. So pertanyaanku, bagaimana kita bisa mengenal diri kita sendiri kalau kita selalu membohongi diri kita sendiri? Bagaimana kita bisa benar-benar mencintai diri kita sendiri dan mencapai potensi maksimal kita, kalau kita tidak mengenal diri kita sendiri?

Kalau mendapati seseorang berbohong, seringkali aku akan memancing dia untuk mengatakan yang sebenarnya. Bahkan pada beberapa orang aku akan mengatakan kalau aku tahu kalau mereka berbohong. It might not be pleasant to be asked about your lies, tapi itu bentuk rasa peduliku (I know some of you disagree with me). Aku selalu merasa, tak ada relation-ship, baik friend-ship maupun love-ship yang baik dan sehat, tanpa kejujuran. A ship can’t stand in a stormy ocean with holes on it’s hull, and lies are big holes for any-ship.

One lie will only lead to another lie, and no trully good things will come from it. Alangkah ruginya kita kalau kita biarkan salah satu sifat orang munafik itu ada pada diri kita. Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk tidak, setidaknya, mengurangi  kebohongan kita. Gimana caranya? Dengan menghindari melakukan hal-hal yang akan membuat kita berbohong. Selain itu kalau kita bisa menerima dan merasa nyaman dengan diri kita apa adanya, kita akan melihat kalau kebohongan itu sebenarnya sesuatu yang tidak perlu. Dan selama kita tidak melakukan hal yang salah, jangan pernah takut dengan apa yang dipikirkan orang tentang diri kita.

Hey, I’m still lying myself sometimes, tapi hanya untuk hal-hal yang aku anggap perlu, ketika kebaikan dari berbohong itu lebih besar dari keburukannya. But believe me, tidak banyak situasi di mana kebaikan dari berbohong itu lebih besar dari keburukannya. Sedikit demi sedikit, bagaimana kalau kita mengurangi kebohongan yang tidak perlu? Ayo kita mulai dari hal kecil ini… yes we can! 🙂

 


Sagippio

diriku sendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s